Kamis, 09 Juni 2011

HAKEKAT KEHIDUPAN DUNIA


Semua orang yakin bahwa hidup di dunia hanya sementara, sedangkan akhirat adalah tempat kembali mereka. Tetapi banyak orang yang tidak sadar akan kehidupan yang akan ia jalani nantinya. Padahal waktu terus berjalan seiring perjalanan hidup seseorang menuju kematiannya. Bergantinya hari kehari, bulan kebulan dan tahun ketahun, akan mendekatkannya pada saat yang telah ditetapkan yaitu kematian. Benarlah perkataan seorang tabi’in Hasan Al Bashri rahimahullah ;

يَا ابْنَ آدَم إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

 Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu. [ Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi ].
Memang, dunia bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Namun dunia bisa menjadi penghalang untuk bisa sampai kepada Allah. Harta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang di benci. Namun, harta itu tercela jika dia melalaikan dari mengingat Allah. Betapa banyak kaum muslimin yang tertipu dengan gemerlap dunia sehingga lupa akan tujuan penciptaannya. Mereka kumpulkan harta siang dan malam hingga meninggalkan berbagai kewajiban agamanya. Ia bangun rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan popularitas serta kedudukan yang tinggi dihadapan manusia. Sementara mereka lupa akan infaq dan shadaqoh serta beramal shalih lainnya untuk mendapatkan kedudukan yang mulia dihadapan Allah Ta’ala.

Ironisnya, mereka tidak menyadari hal tersebut dan ketika mereka ditanya, “Apakah yang kalian inginkan, dunia ataukah akhirat ?” Serentak menjawab, “kami menginginkan akhirat!” Padahal keadaan amalan mereka menjadi saksi atas kedustaan ucapannya tersebut.

Apa hakekat kehidupan dunia ?
Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini. Kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Maka jika Allah memberi nikmat pada kita sehingga bisa memahami hakikat dunia ini, yaitu bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hati kita akan menjadi sehat. Adapun jika kita lalai tentang hakikat ini, maka kematian dapat menimpa hati kita. Diantara hakekat dunia yang disebutkan dalam al qur’an dan as sunnah adalah :

Pertama : Dunia adalah kesenangan yang menipu. Yaitu kesenangan yang hilang saat ajal menjemput. Kesenangan yang tidak abadi dan hanya bersifat sementara. hal ini sebagaimana friman Allah Ta’ala ;
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [ QS. Al hadid : 20 ].
Imam Ibnu Katsir berkata : dunia adalah kesenangan yang fana dan menipu. Bagi siapa yang cenderung kepadanya maka ia tertipu dan ta’ajjub dengannya, sampai ia berkayakinan tidak ada tempat tinggal selainnya dan tidak ada tempat kembali setelahnya. Padahal ia adalah hina dan rendah dibandingkan negeri akhirat. [ Tafsir Ibnu katsir pada ayat tersebut ].
Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya ;
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shohihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Perlu kiranya kita merenungkan hadits ini dengan seksama, di golongan manakah diri kita berada. Apakah kita termasuk golongan yang mendapat rahmat dan terjauh dari laknat ataukah sebaliknya diri kita justru termasuk orang-orang yang mendapat laknat, menjadi budak dunia dikarenakan sebagian besar aktivitas kita atau bahkan seluruhnya hanya bertujuan untuk meraih kenikmatan dunia yang fana ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela orang-orang yang tunduk pada dunia dan semata-mata tujuannya adalah mencari dunia dalam sabda beliau:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ
“Celakalah budak dinar (uang emas), celakalah budak dirham (uang perak), celakalah budak khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah budak khamilah (ranjang yang empuk).” (HR. Bukhari)
Inilah celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang kesehariannya menjadi budak harta dan berbagai kesenangan dunia. Renungkanlah dengan penuh kejujuran dan jawablah di golongan manakah diri kita berada? Apakah kita termasuk orang yang menjadi budak dunia ataukah orang yang tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah? Renungkanlah sekali lagi hal ini!
Kedua : Dunia adalah surganya orang kafir dan penjaranya orang beriman. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah sallallhu alaihi wasallam ;
عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، أَن ّالنَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Ibnu Umar bahwasanya nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda : Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. [ HR. Muslim ].

Imam An Nawawi dalam syarh Muslim menjelaskan : “Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.

Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.” (Syarah Shahih Muslim No. 5256).

Bukan berarti orang beriman tidak boleh kaya, memiliki kendaraan yang bagus dan juga rumah yang indah pula. Akan tetapi, kenikmatan seorang mukmin di dunia jika dibandingkan jannah di akhirat sangat jauh sekali. Seakan-akan dunia ini adalah penjara bila dibandingkan jannah di akhirat.

Sedangkan orang kafir walaupun mereka menjadi orang yang paling miskin sekalipun, mereka tetap menjadikan dunia ini menjadi surganya mereka dibandingkan siksa yang pedih di akhirat sana.
Maka alangkah indahnya menjadi orang mukmin karena betapapun berat dalam menghadapi dunia ia tetap mengharapkan indahnya jannah di akhirat. Dan sungguh celaka orang kafir karena kenikmatan dunia ini hanya akan mereka rasakan sesaat, sementara meraka telah menantinya.

Kaitkanlah Hatimu Dengan Akhirat
Saudaraku, jangan jadikan hatimu terkait dengan dunia, jangan sampai dunia masuk ke dalam hatimu dan bercokol di dalamnya, teladanilah generasi terbaik umat ini, mereka menggenggam dunia, namun cukup sampai di situ dan tidak merasuk ke dalam hati. Maka jadilah mereka generasi yang mencurahkan segenap jiwa raganya untuk kehidupan akhirat, dunia sebatas di genggaman mereka sehingga mudah dilepaskan, mudah untuk diinfakkan di jalan Allah. Adapun kita wahai kaum muslimin, aina nahnu min haaulaai (di manakah kedudukan kita jika dibandingkan mereka)? Di mana?! Tentu sangat jauh dari mereka!

Oleh karena itu wajib bagi diriku dan dirimu untuk merenungi sekali lagi bahkan senantiasa merenungi apakah tujuan kita diciptakan di dunia ini. Sangat mengherankan jika seorang muslim telah mengetahui tujuan penciptaannya kemudian lalai dari hal tersebut, bukankah inilah puncak kedunguan?! Sekali lagi, mari kita senantiasa mengaitkan amalan kita dengan akhirat, jika anda seorang yang mempelajari ilmu dunia, maka niatkanlah untuk akhirat, niatkanlah bahwa dirimu dengan ilmu tersebut akan membantu kebangkitan kaum muslimin. Jika anda seorang pengajar, dosen atau semisalnya, maka niatkanlah aktivitas mengajar anda untuk akhirat dan kebangkitan kaum muslimin, demikian juga seluruh profesi, maka niatkanlah untuk akhirat.

Namun apabila niat anda justru sebaliknya, anda belajar, mengajarkan ilmu dunia, berbisnis dan melakukan aktivitas dunia lainnya hanya sekedar untuk mendapatkan dunia, maka anda telah merugi karena telah melewatkan keuntungan yang amat banyak dan janganlah anda mencela kecuali diri anda sendiri.

Sebagai penutup, marilah kita berdo’a dengan do’a yang diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Semoga kita dijaga oleh Allah dari berbagai fitnah dunia dan dipertemukan dengan-Nya dalam keadaan husnul khotimah.
اَللّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
“Ya Allah, janganlah engkau jadikan musibah dalam urusan agama kami, dan jangan pula engkau jadikan dunia ini adalah tujuan terbesar dan puncak dari ilmu kami.” (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

SIFAT SEORANG PENUNTUT ILMU


Rajinnya para penuntut ilmu untuk mendatangi majlis-majlis ilmu dan kajian keislaman adalah sebuah kemestian. Bahkan melahap kitab-kitab para ulama’ dan mengkajinya lewat bimbingan para ustadz juga harus dilakukan. Semua itu adalah sebuah cara untuk mendapatkan ilmu dan menata hati kita agar senantiasa dekat dengan Allah Ta’ala.

Disamping itu, kita juga harus memahami hal-hal yang menjadikan ilmu kita menjadi barakah. Karena keberkahan adalah sesuatu yang amat penting dalam menuntut ilmu. Betapa banyak kita saksikan seseorang yang rajin menuntut ilmu, akan tetapi tidak ada pengaruh dan peningkatan sedikitpun terhadap ibadah dan amalannya. Bisa jadi dalam satu pekan ia mengahadiri 3 atau bahkan 4 majlis.tetapi majlis tersebut hanya sebagai hiburan hati dari kesempitan dan kerupekan hidup yang sedang ia jalani. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam : Manusia yang paling berat adzabnya pada hari kiamat adalah seorang ‘alim yang tidak bermanfaat bagi orang tersebut ilmunya. [ Mu’jamus shaghir At Tabrani ].
Inilah ancaman dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada orang yang ilmunya tidak berkah. Tidak menambah kebaikan pada aqidahnya, ibadahnya, akhlaq dan tingkah lakunya. Karena memang seharusnya ilmu agama itu akan membentuk pemikiran, hati dan anggota badanya. Jika hal tersebut tidak dia dapatkan, pasti karena ketidak berkahan seseorang dalam mendapatkan ilmu.

Tips agar ilmu barakah
Diantara perkara yang harus diperhatikan dan betul-betul dia pegangi sehingga menjadikan seorang pencari ilmu mendapatkan keberkahan tersebut adalah : 

Pertama : Ikhlas. Yaitu mengikhlaskan seluruh niatnya hanya kepada Allah Ta’ala ketika mencari ilmu. Karena dengan keihklasan akan muncul barakah pada ilmu dan amal seseorang. Disamping itu, ikhlas adalah syarat diterimanya amal kita dalam menuntut ilmu.

Sudah seharusnya seorang  penuntut ilmu membersihkan niatnya hanya untuk mendapatkan ketenaran di hadapan manusia. Atau untuk mendebat orang-orang yang berbeda pendapat dengannya. Atau dengan niatan agar disebut seorang yang berilmu dan dengan mudah mendapat berbagai kenikmatan dunia. Inilah yang menjadikan ketidak berkahan ilmu. Dan hal inilah yang menjadikan hilangnya kemanfaatan dari ilmu diin ini.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridla Allah, hanya saja dia mempelajarinya semata-mata untuk mendapatkan bagian di dunia maka dia tidak mendapatkan bau syurga di hari kiamat”. [ HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban].

Kedua : do’a. do’a adalah senjata yang ampuh bagi seorang mukmin. Ia juga sebagi penguat jiwa agar senantiasa tegar dan istiqomah terhadap jalan yang sedang ia tempuh. Adalah para salafus shalih jika mereka sedang ada masalah, segeralah mereka bersujud dan berdo’a. 

Diantara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah :
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فِي حَدِيثِهِ عَمَّنْ سَمِعَ أُمَّ سَلَمَةَ تُحَدِّثُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ الْفَجْرِ إِذَا صَلَّى اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا وَرِزْقًا طَيِّبًا
Dari Ummu Salamah, berkata Abdurrahman pada hadistnya bahwasanya ia mendengar Ummu Salamah berkata : Bahwasanya nabi sallallahu alaihi wasallam mengucapkan pada saat selesai shalat subuh "Ya Allah, aku mohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, amalan yang diterima olehMU, dan  rezeki yang halal dan baik. [ HR. Ahmad, Ibnu Majah ].

Ketiga : Taqwa pada Allah Ta’ala. Secara ringkas taqwa adalah menjaga kemurkaan Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Banyak dan beratnya berbagai permasalahan akan terselesaikan dengan taqwa. Sebaliknya, dosa dan maksiat akan menjadikan hati hitam hingga sulit untuk menerima ilmu. Banyaknya hafalan seseorang, rajinnya menghadiri majlis-majlis pengajian tidak akan bermanfaat bagi  jika hatinya kotor.  Ibarat hati itu adalah tempatnya ilmu, maka jika hati rusak tidak akan bermanfaat ilmu yang ia dapatkan. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadist :
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sesungguhnya seorang hamba apabila ia melakukan sebuah dosa akan tergoreslah sebuah titik hitam di hatinya. Jika ia beristighfar dan menarik hatinya, hatinya akan kembali putih. Sebaliknya, jika ia kembali berbuat dosa maka akan kembali pula titik hitam itu (dan akan semakin banyak kadarnya). Itulah roon (belenggu) yang Allah sebutkan “ Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. [ HR. At Turmudzi ].

Bagaimana ia akan mendapat keberkahan ilmu, jika ia tidak meninggalkan dosa-dosa dan berbuat kebaikan. Dan bagaimana ia mendapatkan kebahagiaan dengan ilmu diin ini, jika amalannya tidak sesuai dengan ilmunya ?.

Keempat : mendapat rizqi yang halal. Sudah seharusnya bagi para pencari ilmu untuk mencari penghasilan yang halal. Dan tidak memasukkan makanan kedalam badannya kecuali yang halal. Karena jasad yang mendapat gizi dari makanan yang haram, serta daging yang tumbuh dari yang haram tidak pantas untuk mendapatkan ilmu diin yang mulia ini.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ منْ سُحْتٍ
Tidak masuk jannah daging yang tumbuh dari yang haram. [ HR. Ibnu Hibban, dalam shahih At Targhib 1728 ].

Jika Allah mengancam dengan neraka, bagaimana mungkin Allah memberikan keberkahan pada ilmu yang kita pelajari. Kita berlindung pada Allah Ta’ala dari harta yang haram dan dari ketidak berkahan ilmu kita.

Kelima : bersikap tawadhu’ terhadap ilmu dan para ahlinya. Ilmu tidak akan didapat oleh seseorang yang sombong dengan merasa paling tinggi di hadapan manusia. Berapa banyak seseorang yang tidak mendapatkan berbagai ilmu dikarenakan perasaan sombongnya. Bahkan ia tidak mau untuk mendengarkan dan mengkaji ilmu diin dengan para ustadz atau masyayih. Tidak sedikit diantara mereka yang menolak beberapa ilmu karena tidak sesuai dengan kelompoknya atau dirinya sendiri. Padahal dalil datang pada dirinya dengan terang dan jelas.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَتَعَلَّمُوْنَ فِيْهِ الْقُرْآنَ، يَتَعَلَّمُوْنَهُ وَيَقْرَؤُوْنَهُ، ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ: قَدْ قَرَأْنَا وَعَلِمْنَا، فَمَنْ ذَا الَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ مِنَّا؟! فَهَلْ فِي أُولَئِكَ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أُوْلَئِكَ ؟ قَالَ: أُوْلَئِكَ مِنْكُمْ، وَأُوْلَئِكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِ
Akan datang pada manusia suatu zaman yang mereka belajar al qur’an, mereka pelajari dan mereka baca. Kemudian mereka berkata : Kita telah membaca dan mengetahuinya. Maka siapakah yang lebih baik dari kita ?. apakah pada mereka itu ada kebaikan ?. para sahabat berkata : Ya Rasulullah, siapakah mereka itu ?. beliau menjawab : Mereka itu dari kalian. Dan mereka itu bahan bakarnya neraka. [ HR. At Tabrani, shahih At Targhib 133 ].

Betapa banyak mereka-mereka itu pada zaman kita sekarang. Yaitu orang-orang yang mencari ilmu untuk berbangga bangga. Kami telah belajar pada syaikh fulan dan fulan dan sudah mendapatkan ijazah. Maka kamilah yang berhak untuk menyampaikan kitab ini dan itu. Sedang orang selain kami tidak berhak.

Ada juga yang mencari ilmu diin hanya untuk mendebat orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Dicetaklah buku-buku dan diperbanyaklah kaset-kaset untuk menghantam setiap pemikiran yang berbeda dengan mereka. Seakan-akan mereka dalam sebuah pertempuran antara hidup dan mati.

Diantara tawadhu’nya seseorang terhadap ilmu dan ahlul ilmi adalah menerima kebenaran dari siapapun dan dari manapun selam ia seorang muslim. Dan kesombongan adalah menolak kebenaran serta meremehkan manusia. Apakah masih ada sifat tersebut pada diri anda ?. semoga Allah menjaga kita dari sifat-sifat yang tercela dan memberikan pada kita sifat-sifat yang mulia. Karena hanya dengan itulah keberkahan ilmu akan kita dapatkan. [ Amru ].

Bagaimana Anda Mendapatkan Ilmu ?


Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Karena benar dan lurusnya aqidah serta ibadah seseorang sangat tergantung pada ilmunya. Sebagaimana dalam hadist Rasulullah sallallahu alaihi wasallam beliau bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim [ HR. Ibnu Majah ].
Seseorang muslimpun wajib mempelajari setiap ilmu yang ibadah serta aqidah seseorang tidak akan lurus kecuali dengan ilmu tersebut. Bahkan islam memasukkan perbuatan kufur bagi orang-orang yang sengaja berpaling dari islam dengan tidak mau mempelajarinya dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. [ QS. As Sajdah : 22 ].
Syaikh Sulaiman bin Nashir al ‘Ulwan berkata : yang dimaksud dengan berpaling yang menyebabkan batalnya islam seseorang adalah berpaling dari mempelajari pokok-pokok din Islam yang menyebabkan ia menjadi seorang muslim. Walaupun ia bodoh terhadap hal-hal yang rinci atau cabang, karena hal yang  tersebut kadang hanya diketahui oleh para ulama’ dan pencari ilmu. [ At Tibyan Syarkh Nawaqidhul islam, pembatal ke 10 ].
Inilah perintah islam terhadap para pengikutnya untuk mendalami ilmu agama. Bisa jadi berbagai kesempitan hidup dan bencana yang menimpa diri dan masyarakat kita disebabkan bodohnya kita terhadap ilmu-ilmu agama serta tidak mau mengamalkannya dalam kehidupan. Bersamaan dengan itu, masyarakat kita silau terhadap peradaban barat yang notabenenya jauh dari tuntunan agama islam.
Cara mendapatkan ilmu
Terus, bagaimana cara mendapatkan ilmu yang bermanfaat ?. apakah hanya dengan melamun dan bermalas-malas ?. Tentunya tidak. Karena ilmu didapat hanya dengan belajar, ketekunan, kecerdasan dan bahkan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Lihatlah pada para ulama’ terkenal pada masa dahulu !. Mereka tidak begitu saja menjadi seorang ulama. Tetapi harus belajar kepada banyak guru dan menelaah kitab-kitab mereka. Kemudian setelah waktu yang lama, barulah Allah memberikan kepada mereka ilmu agama ini sehingga menjadi penuntun ummat dan cahayanya.
Metode mencari ilmu itu hanya ada dua. Pertama dengan mengkaji ilmu dari para ulama’ yang lurus langsung dari lesan mereka. Dan yang kedua adalah dengan menelaah kitab-kitab para ulama’ yang sudah dikenal dikalangan ummat ini. Begitulah cara yang ditempuh oleh para penuntut ilmu dalam mendapatkan ilmunya. Sedangkan rinciannya adalah sebagai berikut ;
Pertama : mencari ilmu dengan mengambilnya dari para ulama’ secara langsung. Islam yang mulia ini pertama kali diajarkan oleh Allah Ta’ala kepada nabi sallallahu alaihi wasallam lewat Jibril ‘alaihis salam. Kemudian Rasulullallah sallallahu alaihi wasallam ajarkan kepada para sahabat radhiyallallahu ‘anhum. Dan para sahabat menyampaikan ilmu ini kepada para tabi’in dan seterusnya. Hingga ilmu islam ini menyebar dari generasi ke generasi melalui pengajaran. maka bersambunglah sanad kaum muslimin ini sampai pada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Dalil bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mendapatkan ilmu dari jibril adalah firman Allah Ta’ala :
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى
Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. [ QS. An Najm : 1-5 ].
Ibnu katsir berkata : Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba dan rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam bahwasanya Ia mengajarkan pada Rasulullallah yang ia datang dengannya kepada manusia “ syadidul quwa” yaitu jibril ‘alaihis salam. [ Tafsir Ibnu Katsir 4/247 ]
Sedangkan dalil bahwasanya para sahabat belajar dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah :
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [ QS. Ali Imran : 164 ].
inilah metode yang paling baik dalam belajar. Bahkan munculnya gerakan gerakan sesat hari ini disebabkan mereka tidak mempelajari ilmu agama ini dari ahlinya. Mereka belajar hanya dari buku. Sementara tidak ada pembimbing yang mengarahkan tentang buku apa saja yang harus dibaca atau harus dijauhi. Mana yang lebih kuat diantara dua pendapat. Serta bagaimana ia harus berakhlaq dengan akhlaq para ulama’ yang mulia. Semua ini hanya didapatkan ketika seseorang belajar kepada seorang syaikh atau ulama’ yang telah mapan ilmunya.
Yang paling diperhatikan oleh penuntut ilmu dalam tahapan ini adalah berusaha mencari seorang ulama’ shalih yang pantas untuk dijadikan guru. Jangan sembarangan memilih guru, karena ia akan mempengaruhi ilmu dan akhlaq kita. Dan jangan hanya belajar pada satu guru. Karena kita akan mendapatkan berbagai kelebihan dari beberapa guru, ketika kita belajar pada banyak guru.
Metode kedua adalah dengan menelaah kitab-kitab para ulama’. Ketika kita tidak bisa lagi untuk belajar pada para ulama’ dan para syaikh secara langsung, maka diperbolehkan bagi kita untuk mempelajari kitab-kitab yang disandarkan pada mereka. Dengan syarat bahwa buku-buku yang kita baca tersebut disandarkan pada para ulama’ yang lurus aqidahnya.
Tidak bisanya kita untuk belajar langsung pada mereka, bisa jadi disebabkan karena jauhnya jarak antara kita dan mereka. Atau memang karena minimnya para ulama’ yang amanah terhadap ilmunya dan pantas untuk dijadikan sebagi rujukan ummat. Lebih lagi para ulama’ yang berbicara tentang berbagai problem ummat dengan lantang. Dan bisa jadi karena memang kita tidak hidup sezaman dengan mereka. Semua inilah yang menyebabkan seseorang terpaksa belajar dari kitab-kitab para ulama’ saja dan terhalang untuk bertemu langsung dengan mereka.
Walau demikian, tetap ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pencari ilmu ketika mereka mulai belajar dari beberapa buku, diantaranya ;
-          Janganlah seseorang merasa cukup hanya dengan membaca buku. Sementara di depannya terbuka lebar pintu untuk belajar kepada para ulama’. Ingatlah bahwa asal dalam mendapatkan ilmu itu adalah belajar pada ahlinya.
-          Selanjutnya, ia harus memilih buku-buku yang bermanfaat dari berbagai bidang ilmu. Karena salahnya seseorang dalam memilih buku akan menyebabkan kerugian dunia dan akhirat. Sebaliknya, ketepatan dalam memilih akan membawanya pada lurusnya pemikiran dan selarasnya ia dengan kebenaran.
-          Setelah dia mencari buku-buku yang bermanfaat, hal yang harus diperhatikan selanjutnya adalah mencari pembimbing dari para ulama’ atau pada orang-orang yang lebih faham terhadap agama ini. Karena bisa jadi banyak istilah yang tidak kita pahami, atau beberapa permasalahan yang janggal sehingga membutuhkan orang yang lebih paham untuk ditanyai.
Imam As Syatibi berkata : Ilmu ini pada mulanya ada pada dada-dada para pemiliknya [ulama’]. Kemudian berpindah ke buku. Dan pembukanya adalah ditangan para ulama’. Sedangkan buku saja tidak bermanfaat bagi seseorang tanpa membukanya dengan bimbingan para ulama’. [ Al Muwafaqot : 1/97 ].
Demikianlah cara yang harus dilalui oleh para pencari ilmu. Kunci dari semua itu adalah sabar. Jika seseorang bersabar dalam mengkaji kitab-kitab para ulama’ dengan bimbingan seorang ustadz atau ‘alim, pasti Allah Ta’ala akan memberikan ilmu diin ini pada kita. Sebaliknya, jika kita malas dan tidak sabar menembuh berbagai kesulitan dalam mencari ilmu, maka ilmu diin ini tidak kita dapatkan kecuali sedikit. [ Amru ]

Senin, 11 April 2011

MEMAHAMI HAKEKAT JAHILIYAH

Hari ini bodoh di identikkan dengan orang yang tidak berpendidikan. Mungkin hanya lulusan SMP, SD atau bahkan belum pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Atau orang-orang yang tidak bisa baca tulis sehingga luput darinya berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan orang yang pandai, banyak orang memahaminya dengan orang yang memiliki strata pendidikan yang tinggi. Lulusan sarjana S1, S2 atau bahkan S3. Atau mereka yang digelari dengan profesor atau doktor dan gelar-gelar mentereng dipundaknya. 

Terus, bagaimana sebenarnya islam memberikan definisi bodoh itu ?. karena salahnya seseorang dalam memahami kebodohan akan berakibat fatal. Yaitu campur aduknya kebenaran dan kebatilan. Dan yang lebih parah lagi adalah lepasnya berbagai ikatan-ikatan islam dari dirinya. Benarlah apa yang dikatakan Umar Ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu :
إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةُ إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلاَمِ مَنْ لاَ يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةِ
Sesungguhnya akan terurai ikatan islam ini sehelai demi sehelai, ketika ada dalam islam orang-orang yang tidak mengetahui apa itu jahiliyah.
Dari sinilah, penting bagi kita untuk mempelajari apa itu jahiliyah, siapa orang-orang yang disebut bodoh tersebut, dan kapan kejahiliyahan itu muncul. Dengan itu jelas bagi kita jalan orang-orang yang selamat dan jalan orang-orang yang tersesat. Allah Ta’ala berfirman ;
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quraan (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. [ QS. Al An’am : 55 ].

Arti jahilyah
Banyak orang yang mengira bahwa masa jahiliyah telah berakhir bersamaan dengan datangnya ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Bahkan bisa jadi, mereka menduga bahwa kejahiliyahan itu hanya terdapat pada masyarakat Arab sebelum Islam. Padahal sebenarnya kejahilyahan itu ada pada setiap masyarakat, tempat dan masa. Dengan kata lain, kejahiliyahan itu bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk memahami apa itu jahiliyah yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadist, rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلَاثَةٌ مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ وَمُبْتَغٍ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ
Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda : Manusia yang paling dibenci Allah ada tiga golongan, yaitu : Yang melakukan kekufuran di tanah haram, dan menghendaki tradisi jahiliyah di dalam (agama) Islam, dan yang menuntut darah seseorang dengan tidak haq (benar) untuk ditumpahkan darahnya. [HR. Bukhari].

Yang dimaksud dengan menghendaki tadisi jahiliyah; diantaranya adalah akhlaq  jahiliyah dan kehidupan mereka seperti pamernya para wanita dengan perhiasannya ketika keluar rumah. Atau kembalinya ummat pada keyakinan orang-orang jahiliyah zaman dahulu seperti perdukunan, meramal nasib, dan yang lainnya. Atau berhukum dengan hukum jahiliyah dengan meninggalkan hukum islam. Dengan kata lain lebih yakin dan memilki komitmen yang kuat terhadap syari’at selain syari’at islam. Dan dapat disimpulkan bahwa taradisi jahiliyah yang dimasud adalah; setiap apa saja yang menyerupai kebiasaan jahiliyah dari mulai rusaknya akhlaq, adat, aqidah dan lainnya. Yang semua itu telah ditentang oleh Islam lewat kitabullah dan sunnah nabi-Nya sallallahu alaihi wasallam. [ majalah ar risalah 26 januari 2008, tulisan Marwan Syahin dosen hadist di Universitas al Azhar, dengan perubahan ]

Sedangkan Muhammad quttub memberikan pengertian : istilah  jahiliyah dalam alqur’an adalah kebodohan terhadap hakekat uluhiyah [ itu adalah keadaan akalnya ] ataupun mengikuti selain apa yang Allah turunkan [ ini adalah keadaan jiwanya ]. [ kaifa naktubu at tarikh : 40 ]

Beliau juga berkata : Jahiliyah adalah keadaan seseorang yang menolak untuk mengikuti jalan Allah, dan membuat undang-undang yang melawan hukum Allah Ta’ala. Kemudian terjadilah penyimpangan yang sempurna. Semua itu disebabkan karena berbagai penyelewengan yang terjadi sehingga terjadi kegoncangan, ketidak tenangan, kehancuran serta adzab pada kehidupan manusia [ jahiliyatu qornul ‘isyriin : 8 ].

Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa jahilyah adalah jauhnya seseorang atau masyarakat dari tatanan Islam dan engganya seseorang dalam mengikuti Islam walaupun ia hidup dalam tatanan dunia modern. Jahiliyah ini bisa terjadi pada seseorang atau masyarakat, dengan suatu masa atau zaman tertentu dan tempat tertentu. Dalil dari keterangan tersebut adalah hadist rasulullah sallallahu alaihi wasallam terhadap Abu Dzar alghifari padahal beliau adalah seorang sahabat :

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ
Sesungguhnya dalam dirimu ada kejahiliyahan. [HR. Muttafaq ‘alaihi ].
Maka, masyarakat yang telah berpendidikan tinggi dan mencapai puncak teknologi serta kemajuan tetap dianggap masyarakat jahiliyah jika mereka tidak memahami islam dan melaksanakannya dalam kehidupan mereka. 

Pembaca yang budiman. Lihatlah, betapa kejahiliyahan telah masuk dalam kehidupan ummat islam ini cukup dalam. Salah satunya adalah rusaknya akhlaq kaum muslimin dengan mengikuti budaya-budaya barat. Dimulai dari ditanggalkannya pakaian muslimah dan keluarnya para wanita dari rumah mereka dengan dandanan yang sronok kemudian bercampur baur pada pekerjaan mereka antara laki-laki dan peremapuan. Perasaan malu seorang wanita muslimah sudah mulai luntur dari dirinya. Bahkan banyak diantara mereka yang bangga jika di elu-elukan kecantikannya oleh para lelaki. Tidak sedikit dintara mereka yang bercita-cita menjadi bintang sinetron atau bintang film dengan tujuan ketenaran. 

Belum lagi kerusakan dibidang perpolitikan, ekonomi, hubungan antara laki-laki dan perempuan dan kerusakan kerusakan lainnya. Hampir semunya sudah tidak menggunakan syri’at yang telah Allah Ta’ala turunkan. Akan tetapi mereka lebih suka menggunkan aturan demokrasi dalam mengatur seluruh urusan mereka. Akibatnya adalah merebaknya kejahiliyahan dimana-mana hingga sulit untuk dikendalikan.

Islam adalah solusi 
 Jika kita ingin keluar dari kejahiliyahan maka wajib bagi kita untuk mempelajari Islam. Kemudian berusaha untuk mengamalkan dalam kehidupan kita sekuat tenaga. Karena Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Mulai dari tidur hingga tidur kembali. Mulai dari urusan pribadi hingga urusan negara dan pemerintahan. Dan tidak seorangpun diperbolehkan untuk keluar dari aturan Allah dan syari’atn-Nya. Bahkan Allah Ta’ala mengancam kepada orang-orang yang menyelisihi perintahnya dengan firman-Nya :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (63)
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [ QS.An Nuur : 63 ].

Ibnu Katsir menjelaskan : hendaklah kalian berhati-hati dan takut untuk menyelisihi syari’at Rasulullah secara batin ataupun yang nampak. Maka akan tertimpa bencana di dalam hati mereka berupa kekufuran, kenifakan atau kebid’ahan. Atau tertimpa adzab yang pedih. Yaitu di dunia dengan terbunuh, atau terkena had, penjara atau yang lainnya. [ tafsir Ibnu katsir pada ayat tersebut ]

Begitulah Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya dengan kesengsaraan dan kehinaan di dunia dan akhirat. Maka bagi seorang muslim tidak ada pilihan jika ia menginginkan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat kecuali mengikuti aturan Islam dan cinta terhadap aturan tersebut. Sebagaimana perkataan Umar Ibnul Khottob radhiyallahu ‘anhu :

"نَحْنُ قًوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالْإِسْلاَمِ فَمَتَى اِبْتَغَيْنَا بِغَيْرِ الْإِسْلاَمِ أَذَلَّنَا اللهُ".
"Kami adalah kaum yang Allah mulyakan dengan islam, maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami." ( At Tobari 13/478 ).

Ketahuilah bahwa kemuliaan itu hanya ada pada Islam. Maka, orang-orang yang ingin mulia dan kemuliaan dengan meniru orang-orang kafir dan meninggalkan islam, tidak akan mendapat kemulian kecuali kehinaan. Sedangkan orang-orang yang mencari kemuliaan dari islam dengan cara mempelajari dan mengamalkan berbagai syari’atnya, pasti Allah akan memberikan kemuliaan tersebut. Jahilyah adalah larinya orang dari islam. Sedangkan orang yang pandai adalah orang yang mencari berbagai solusi dengan islam. [ Amru ]

Kenapa harus berilmu ?

Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak ada jalan lain bagi seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan jalan yang telah disyari’atkan oleh penciptanya. Dan tidak ada jalan lain bagi seorang hamba untuk mengetahui perintah dalan larangan dalam Islam kecuali dengan dengan wahyu dari rasulullah sallallahu alaihi wasallam, yaitu al qur’an dan as sunnah. Allah Ta’ala berfirman :

أَوَ مَن كَانَ مَيْتاً فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُوراً يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. [ Al An’am : 122 ].

Imam Ibnu katsir berkata : ini adalah permisalan orang mukmin yang sebelumnya dalam keadaan mati ; yaitu dalam kesesatan, kecelakaan dan kebingungan. Kemudian Allah hidupkan hatinya dengan iman dan Allah beri petunjuk padanya dengan mengikuti rasul-Nya. Kemudian Allah beri petunjuk bagaimana ia harus berjalan dan bagaimana harus berbuat dengannya. [ Tafsir Ibnu katsir pada ayat tersebut ].

Begitulah ilmu, membimbing pemiliknya dari kesesatan menuju petunjuk. Dari kesempitan hidup menuju kelapangan. Dan dari kesengsaraan hidup dunia akhirat menuju pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka tidak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa manusia adalah binatang jika tidak dibekali oleh ilmu. Bahkan kenyataanya lebih parah dari pada binatang, jika pikirannya telah rusak dan jiwanya telah membusuk.

Pentingnya ilmu
Dalam tulisan ini kita akan mempelajari pentingnya ilmu. Tujuannya agar kita lebih semangat dalam mempelajari ilmu din ini sehingga selamat dunia akhirat. Jika kita sempat untuk belajar ilmu kedikteran, perkomputeran, teknologi dan lainnya, kenapa kita tidak sempat untuk belajar islam lebih mendalam. Tidak sempat untuk menela’ah alqur’an dan hadist Rasulullah sallallahu alaihiwasallam. Semua ini mungkin disebabkan karena belum pahamnya akan pentingnya ilmu agama dalam kehidupan kita. Diantara pentingnya ilmu agama yaitu ;

Pertama : sebagai alat untuk mengetahui Allah Ta’ala. Mengetahui Allah Ta’ala dalam rububiyah, uluhiyah serta asma’ washifat mutlak bagi seorang hamba. Bagaimana ia akan merasakan cinta, takut, rasa harap dan juga tawakkal jika ia tidak mengetahui siapa penciptanya. Banyaknya orang yang berbuat kesyirikan dan perbuatan dosa disebabkan karena mereka tidak memahami tauhid yang benar. Allah Ta’ala telah memerintahkan kita dalam al qur’an :
فَاعْلَمْ اَنَّـهُ لاَ اِلَهَ اِلاَّالله
Artinya : Ketahuilah bahwa tidak ada ilah selain Allah. [ QS. Muhammad : 19 ]
Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata : Yaitu ilmu yang ada di dalamnya ikrarnya hati dan mengetahuinya. Artinya apa yang diminta darinya untuk diilmui dan kesempurnaannya adalah beramal dengannya. Inilah ilmu yang Allah Ta’ala perintahkan dengannya – yaitu ilmu tentang tauhiddullah – serta Allah wajibkan atas setiap manusia. Tidak ada yang boleh bodoh terhadapnya bagaimanapun keadaannya,  bahkan semunya wajib mempelajarinya. [ Tafsir as sa’di pada ayat tersebut ].

Bahkan Allah Ta’ala menjamin surga bagi seseorang yang mengikrarkan kalimat tauhid laailaaha illa Allah dan dia paham tentang kalimat tersebut. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ عُثْمَـانِ بْنِ عَفَان رَضِىَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ مَـاتَ وَ هُوَ يَعْلَمُ اَنَّـهُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله دَخَلَ الجَنـَّـةَ
Artinya : Barang siapa mati, sedang dia mengetahui bahwa tidak ada ilah kecuali hanya  Allah akan masuk jannah. [ HR. Muslim, kitabul Iman I/55, Ahmad I/85 ].

Jika pada masa jahiliyah dahulu, nyawa para sahabat dipertaruhkan karena kalimat tersebut sebab orang-orang jahiliyah tahu betul akan kosekwensi dari ucapan ini. Akan tetapi ummat kita hari ini malah menjadikan kalimat tersebut sebagai permainan dan hampir tidak ada perbedaan antara orang yang mengucapkan dan yang tidak mengucapkan. Ini semua karena kebodohan ummat tentang kalimat laa ilaaha illallah dan memahami siapakah Allah Ta’ala.

Kedua : ilmu adalah syarat kebaikan seseorang. Setandart kebaikan adalah al qur’an dan sunnah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Bukan menurut kebanyakan manusia dan pemikiran-pemikiran para pakar. Suatu kebaikan menurut manusia, akan tetapi menyelisihi syari’at, hakekatnya adalah kebatilan dan kesesatan. Maka, jika Allah Ta’ala menghendaki kebaikan pada seseorang, pasti Allah akan pahamkan baginya ilmu agama. Dan jika Allah Ta’ala menginginkan kesesatan pada seseorang, Allah haramkan baginya ilmu agama. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ
Barang siapa dikehendaki Allah padanya kebaikan, maka Allah akan memahamkan dien kepadanya. [ Muttafaq ‘alaihi ].

Imam Ibnu Taimiyah berkata ketika menjelaskan hadist di atas : Dan setiap orang yang Allah kehendaki baginya kebaikan, pasti Allah akan pahamkan ia tentang diin. Dan barang siapa yang tidak paham masalah agama, maka Allah belum menghendaki kebaikan baginya. Sedangkan diin adalah apa yang telah dibawa oleh rasul-Nya ; yaitu apa-apa yang wajib atas seseorang untuk membenarkan dan beramal dengannya. Dan setiap orang harus membenarkan apa saja yang datangnya dari rasulullallah sallallahu alaihi wasallam. Serta mentaati seluruh apa yang beliau perintahkan. [ Majmu’ fatawa : 28/80 ].

Kebaikan tentunya tidak hanya mengetahui halal dan haram. Mengetahui aqidah yang benar dan yang merusaknya. Akan tetapi ilmu tersebut mempengaruhi hatinya untuk beramal dengan ilmu yang telah ia pelajari. Menjadikannya tunduk terhadap syari’at dan komitmen terhadap hukum-hukum islam. Dan jika ia tidak mau beramal dengan ilmu yang telah ia pelajari, maka ilmu tersebut akan menuntut atas pengamalannya pada hari kiamat. 

Ketiga : ilmu adalah syarat diterimanya amal serta dasar seluruh amalan dan perbuatan. Amal seseorang tidak akan menjadi benar kecuali dengan ilmu yang benar pula. Bahkan ciri orang-orang yang tersesat dari jalan kebenaran adalah semangatnya yang tinggi dalam berislam, tetapi sedikit ilmunya. Karena semangatnya yang tinggi dan tidak dibarengi ilmu yang benar, bisa jadi ia ingin memperbaiki dirinya, kelurganya serta masyarakatnya, tetapi yang terjadi pengrusakan dengan amalan-amalan bid’ah.

Selain itu, ilmu juga harus dijadikan sebagai dasar dalam seluruh amalan dan perbuatan kita. Karena lurusnya lisan dan amalan kita sangat dipengaruhi ilmu diin yang ada pada kita. Karena itu Imam Al Bukhori berkata :

العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَ العَمَلِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالى : فَاعْلَمْ اَنَّهُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله
Artinya : Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan, karena Allah berfirman, “Ketahuilah bahwa tidak ada ilah kecuali hanya Allah."  [ Al Jamili bayanil ilmi wa fadhlihi, Ibnu Abdil Bar I/11 ].

Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh 'Aisyah Ummul-mu'miniin radhiyaAllahu ’anha Rasulullah  sallallahu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَت : قَال رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْـُرَنا فَهُوَ رَدٌ
Artinya : Barang siapa beramal tanpa dasar dari kami, maka tertolaklah amalan tersebut. [ HR. Bukhori III/91 , Muslim bab Qodhiyah 81, ].

Ibnu Munir berkata bahwa ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan ; keduanya tidak bernilai kecuali dengan ilmu, maka ilmu harus ada sebelum perkataan dan perbuatan, karena ilmu adalah pembenar niyat, sedang amal tidak diterima tanpa niyat yang benar. [Fathul Bari, Ibnu Hajar I/161, ].

Tidak ada jalan lain jika kita ingin benar seluruh keyakinan dan ibadah kita kecuali dengan ilmu. Ilmu yang benar akan menuntun seseorang ke jannah. Sebaliknya, luputnya berbagai ilmu agama bagi kita, berarti luputnya berbagai amal shalih dari kita. Bahkan bisa menyebabkan seseorang masuk neraka karena melanggar berbagai syari’at disebabkan karena kebodohannya.

Marilah kita berusaha untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat kita. Bersabar dalam menuntut ilmu dan mendalaminya. Serta berusaha untuk mengamalkan dan mendakwahkan ilmu tersebut. 

Tak lupa pula juga berdo’a pada Allah Ta’ala agar diberikan ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu yang bermanfaat tidak akan diberikan Allah kecuali pada orang yang dicintai-Nya.
اَلَّلهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا
Ya Allah, berikanlah manfaat pada kami dengan apa yang telah engkau ajarkan pada kami, dan ajarkan pada kami apa-apa yang bermanfaat atas kami, dan tambahkanlah kami ilmu. 

Semoga kita senantiasa dimudahkan Allah Ta’ala untuk mendapatkan ilmu, mengamalkan, dan mendakwahkannya serta bersabar atasnya. [ Amru ].