Sabtu, 10 Desember 2011

HATI-HATILAH DARI SIFAT TAMAK


Tamak terhadap dunia adalah sumber kemiskinan. Sedangkan qona’ah adalah kekayaan yang tak ternilaikan. Ingat bahwa orang yang miskin bukanlah orang yang kekurangan harta benda. Akan tetapi kemiskinan yang sebenarnya adalah orang yang tidak pernah kenyang dengan harta dunia. Ia cari siang dan malam, tidak menghiraukan halal dan haram, dan bahkan ia persembahkan hidupnya untuk mencari harta dan harta.
Gambaran ini persis sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالاً لأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ ، وَلاَ يَمْلأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6437)
Kejahatan-kejahatan yang terjadi di dunia ini hampir seluruhnya disebabkan oleh ketamakan. Perebutan harta warisan, persaingan bisnis dan kerakusan seseorang terhadap jabatan sering kali terjadi yang menyebabkan pertumpahan darah dimana-mana. Karakusan seseorang terhadap harta dan jabatan lebih parah dibandingkan seekor srigala lapar yang dilepas pada kawanan domba. Karena srigala lapar hanya akan memakan domba, sedangkan orang yang rakus akan melahap apa saja yang ada di depannya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. at-Tirmidzi no. 2482, ash-Shahihul Musnad, 2/178)
Sebaliknya orang yang hidupnya kecukupan, selalu bersyukur pada Allah Ta’ala, dan menggunakan hartanya dengan hati-hati serta tidak lupa berinfaq walaupun sedikit, Allah akan kayakan dia dan Allah akan berikan keberkahan pada hartanya. Karena hakekat kekayaan bukanlah banyaknya harta. Tetapi orang yang kaya adalah orang merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala. Rasulullah sallahu alaihi wasallam bersabda :
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).
Kerakusan terhadap dunia menimbulkan kekikiran. Dan kekiran akan mengakibatkan kehancuran pada seseorang di dunia dan akhirat.
Obat rakus dunia
Jika kita ingin menjadi orang yang tidak rakus terhadap dunia, wajib bagi kita untuk menhiasi diri dengan sifat qona’ah. Sedangkan tips agar seseorang menjadi qona’ah hanya ada tiga hal. Yaitu sabar dalam kefakiran, mengilmui tentang keutamaan qona’ah dan berbuat untuk menjadi orang yang mulia dan tidak meminta-minta. Ketiganya terincikan dengan beberapa langkah yang harus ditempuh diantaranya :
Pertama : Hidup hemat dan sederhana serta tidak lupa berinfaq. Barang siapa yang ingin hatinya kaya dan memiliki kemuliaan jiwa ia harus qona’ah dan berhemat dalam menggunakan harta. Janganlah anda belanjakan harta kecuali untuk hal-hal yang bermanfaat. Jangan anda belanjakan harta untuk membeli perabot-perabot yang mahal dan kurang bermanfaat. Pilahlah antara kebutuhan dengan keinginan. Kadang banyak keinginan kita yang sebenaranya kurang bermanfaat. Sehingga banyak diantara kita yang mengejar keinginan-keinginan tersebut. Padahal kenginan seseorang jika dituruti tidak akan pernah selesai sehingga datangnya ajal.
Kita membutuhkan kesederhanaan dalam pakaian, makanan, tempat tinggal dan juga kendaraan. Bukan berbangga-bangga dengan hal tersebut. Hal inilah yang menjadikan hati kita menjadi kaya dan selalu bersyukur atas pemberian Allah Ta’ala.
Rasulullah memuji orang-orang yang hidup hemat tersebut dalam hadis beliau ;
ثَلاثٌ مُنْجِيَاتٌ;  خَشْيَةُ اللهِ مِنَ السِرِّ وَ الْعَلاَنِيَةِ وَ الْقَصْدُ فِي الْغَنِىِّ وَ الْفَقْرِ وَ كَلِمَةُ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَ الْغَضَبِ

Tiga hal yang menyelamatkan : takut pada Allah dalam keadaaan terang-terangan maupun sembunyi, sederhana dalam keadaan kaya ataupun miskin, dan perkataan yang benar dalam keaadaan ridho ataupun marah. [ HR. Al Baihaqi, Syu’abul iman 1/471 ].
Kedua : jika kita mendapat kemudahan dalam mencari rizki, maka jangan mengerahkan seluruh tenaga untuk mendapatkan kekayaan yang lebih banyak hingga terlupakan ibadah kita. Hal inilah yang akan menjadikan diri kita pendek angan-angan. Kita harus yakin bahwa rizki yang Allah takdirkan pada kita pasti tidak akan jatuh ketangan orang lain walaupun kita juga harus mengusahakannya. Dan kerakusan seseorang terhadap harta tidak akan menambah kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepada orang tersebut. Kita harus yakin dengan firman Allah Ta’ala :
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ في الأرْضِ إلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, [ QS. Hud : 6 ].
Setan memang nenatiasa menakut-nakuti anak adam dengan kefakiran sehingga menusia berbuat dosa. Setan mengatakan : jika kalian tidak rakus, maka kalian menjadi orang miskin. Kalian menjadi orang lemah dan tidak dihormati. Kalian akan menjadi orang-orang pinggiran yang tidak dihormati oleh masyarakat. Dan setan akan tertawa ketika orang tersebut sudah capek dengan karakusannya, yang diikuti dengan kemalasan dia untuk beribadah pada Allah Ta’ala.
Dalam hal ini, Rasulullah sallallahu alaiwasallam memberikan arahan pada kita semua :
لاَ تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوتُ حَتَّى يَبْلُغَهُ آخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ، فَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ: أَخْذُ الْحَلاَلِ، وَتَرْكُ الْحَرَامِ
 “Janganlah kamu merasa bahwa rizqimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” [ Riwayat Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, serta dishohihkan oleh Al Albani   6/209 ]
 Ketiga : hendaklah kita memahami bahwa dalam qona’ah ada kemuliaan, dan dalam ketamakan serta kerakusan terdapat kehinaan. Jika kita telah paham dengan hal tersebut, hati kita akan disinari dengan sifat qona’ah. Karena karakusan hanya akan mencapekkan dan menghinakan seseorang.  Sedangkan sifat qona’ah akan melahirkan kesabaran dalam menggapai syahwat-syahwat dunia. Kesabaran itulah yang akan dibalas Allah dengan jannah di akhirat.
Orang yang qona’ah akan sabar dalam mengikuti kebenaran. Ia akan kuat dalam menghadapi terpaan-terpaan saat menegakkan kebenaran. Karena ia yakin bahwa tidak ada yang kaya, kuat dan mulia kecuali Allah Ta’ala. Sebaliknya, orang yang rakus akan sangat tergantung pada manusia. Orang tersebut akan ciut nyalinya, pengecut jiwanya, tipis hatinya dan lemah imannya. Bisyr Ibnu Haris berkata ;
عِزُّ الْمُؤْمِنِ اِسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
Kemualiaan seorang mukmin adalah merasa kayanya dia dari manusia. [ Al Baihaqi, Syu’abul Iman, 1/171 ].
Keempat : Hendaknya seseorang memahami bahwa mengumpulkan harta akan melahirkan sifat takut. Takut jika hartanya dicuri, takut jika hartanya terbakar atau mungkin lepasnya harta tersebut dari tangannya. Dan orang kaya akan masuk jannah lebih akhir dari pada orang miskin lima ratus tahun. Yang demikian itu karena orang kaya lebih banyak harta yang dihisab dibandingkan orang miskin.
Kita juga diperintahkan oleh islam untuk melihat orang yang dibawah kita dalam hal harta. Tujuannya adalah menanamkan sifat qona’ah dan sekaligus rasa syukur atas pemberian Allah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadinya ;
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
Jika salah seorang diantara kalian ingin melihat kepada orang yang diberi kelebihan atasnya harta dan jasad, hendaklah ia melihat yang lebih rendah darinya. [ HR. Bukhori ].
Kelima : Berdo’a pada Allah Ta’ala. Disamping berusaha, tidak lupa kita juga harus berdo’a. Do’a adalah senjata seorang mukmin dalam melawan setan. Oleh karena itu, banyaklah berdo’a pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah :
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى             
Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina (HR. Muslim no. 2721)
Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 17/41, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi).  
Dengan amalan-amalan di atas, insyaAllah akan menjadikan kita qona’ah dengan pemberian Allah. Kita harus paham bahwa kesabaran di dunia hanya membutuhkan waktu yang sebentar, sesudah itu kita akan merasakan kenikmatan bertahun-tahun. Hal ini seperti sabarnya seorang yang sakit saat ia tahu bahwa kesembuhan pasti akan dating.
Tidak ada jalan bagi seorang mukmin untuk mendapatkan jannah kecuali dengan zuhud dan qona’ah. Sedangkan karakusan terhadap dunia dan kikir hanya akan membawa seseorang ke neraka. Semoga kita dibimbing Allah Ta’ala menjadi orang yang mendapat dua kebahagiaan dunia dan akhirat dan diberikan bekal qona’ah serta zuhud dalam mengarungi kehidupan ini. [ Amru ]



Meraih Kebahagiaan Dunia Akhirat




Setiap orang pasti menginginkan kehidupannya penuh dengan kebahagiaan. Entah kebahagiaan di dunia maupun diakhirat. Akan tetapi banyak diantara mereka yang tidak memahami apakah yang dimaksud bahagia itu. Karena tidak pahamnya dengan hal tersebut, ada diantara mereka yang mengumpulkan harta hingga tujuh keturunan. Ada lagi yang meniti karirnya untuk menjadi tokoh dan orang terkenal walau harus menyuap. Dan ada pula yang mencari wanita-wanita cantik untuk memuaskan nafsunya. Akan tetapi mereka tidak akan mendapat kebahagiaan kecuali dengan Islam. Yaitu dengan menjadikan kampung akhirat tujuannya dan menjadikan dunia sebagai ladang beramal untuk akhirat.

 Menurut Ibnu Hazm, seorang ulama Andalusia, berkata : Bahwa manusia seluruhnya sedang menuju ke satu arah yaitu mengusir kegelisahan. Gelisah bodoh, maka belajar, gelisah miskin, dia bekerja, gelisah tidak berperan dalam masyarakat, maka dia mencari jabatan, status sosial dan lain-lain. Namun seluruh upaya tersebut, tidak membawa kebahagiaan, baik ilmu, harta, maupun jabatan. Hanya satu jalan yang dapat membawa kebahagiaan seseorang, yaitu apabila dia menjadikan Islam sebagai Way of Life, dan menjadikan seluruh sepak terjangnya di jalan Allah.

Jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat adalah jalan terjal yang dipenuhi dengan onak dan duri. Sangat disayangkan, karena ketidaksabaran dan mengikuti hawa nafsu membuat kebanyakan manusia enggan menempuh jalan kebahagiaan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Jalan-jalan kebahagiaan yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul, telah ditinggalkan oleh kebanyakan orang. Mereka lebih senang menempuh kebahagiaan dengan mengikuti para artis, bintang film atau yang lainnya. Mungkin karena ilmu mereka sampai disitu. Tidak paham siapa yang harus mereka tiru.

Harus ditempuh syaratnya
Semua orang menginginkan kebagiaan, tetapi banyak diantara mereka tidak ingin menempuh jalannya. Sungguh ini adalah sesuatu yang mustahil. Dan diantara syarat mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat adalah :

Syarat Pertama : Bertaqwa kepada Allah Ta’ala
Al-Imam An-Nawawi mendefenisikan taqwa dengan, ”Mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”[ Tahrir Alfazh At-Tanbih hal. 322].
Oleh karena itu, orang yang tak menjaga dirinya dari perbuatan dosa, dan mengabaikan perintah Allah, maka dia bukanlah termasuk orang yang bertaqwa. Padahal, ketaqwaan itu merupakan kunci kebahagiaannya di dunia dan diakhirat. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi rezki dari arah yang dia tidak sangka-sangka”. [QS. Ath-Thalaq : 2-3].
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rezki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas di benaknya.”[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/400)]
Bahkan Allah Subhana Wa Ta’ala menjanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa, akan dilimpahkan berkah dari langit dan bumi sebagaimana firman-Nya,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negri-negri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. [ QS. Al-A’raf : 96 ].
Karenanya, setiap orang yang menginginkan kebahagiaan dan keluasan rezki serta kemakmuran hidup, maka hendaknya ia mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Janganlah mencari kebahagian itu dengan cara yang haram bahkan sampai bersusah payah ke dukun, sebab dukun itu sendiri bersusah payah mencari kebahagiaannya dengan cara menipu manusia.

Syarat Kedua : Bertaubat dan ber-istighfar .
Kebanyakan manusia, menyangka bahwa istighfar dan taubat cukup dengan lisan saja. Sehingga istighfar-nya tidak memberikan pengaruh didalam hati dan anggota badannya. Akhirnya, ia tak jujur dalam taubatnya, dan terus larut dalam dosa.
Para ulama telah menjelaskan hakekat taubat dan istighfar. Diantaranya Al-Imam Ar-Roghib Al-Ashfahani menerangkan, ”Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukannya, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan memperbaiki amalan (yang sholeh) dengan cara mengulanginya. Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”. [Al-Mufrodat fii Ghoribil Qur’an (hal. 83)]
Istighfar dan taubat merupakan sebab-sebab kebahagiaan seseorang dan sebab keluarnya karunia Allah –Ta’ala- dari langit dan bumi. Sebagaimana yang telah diucapkan Nabi Nuh –‘alaihi salam- kepada kaumnya di dalam Al-Qur’an,
 “Maka aku katakan kepada mereka,’mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai, ”[ QS.Nuh :10-12].
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, : ”Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadanya dan kalian senantiasa mentaatinya, niscaya Dia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang didalamnya terdapat berbagai macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu (untuk kalian)”[Tafsir Ibnu Katsir  4/449].

Begitu besar dan banyaknya buah dari istighfar dan taubat berupa kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Bahkan, barangsiapa yang ingin diberi kebahagiaan yang terus menerus, maka hendaklah selalu beristighfar dan bertaubat.
Maka sudah seharusnya seorang muslim senantiasa mengamalkan amalan ini. Sebab dengan melaksanakannya, Allah akan menjamin kebahagiaan dan menganugrahkan kenikmatan yang baik sampai pada waktu yang telah ditentukan.

Syarat Ketiga : Berinfaq di Jalan Allah
Infaq atau sedekah merupakan amal kebaikan yang memiliki kedudukan tinggi didalam islam. Selain sedekah mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah  Subhana Wa Ta’ala, ia juga makin mempererat hubungan antara sesama manusia. Sebab, sedekah dapat melapangkan kesempitan, menghentikan dari meminta-minta, membantu orang yang lapar menjadi kenyang, memberikan kegembiraan kepada anak kecil, menyenangkan hati orang dewasa dan menciptakan kebahagiaan ditengah-tengah kaum muslimin.
Begitu banyaknya keutamaan sedekah sehingga ia bisa menjadi perisai dari api neraka. Memang wajar jika sedekah menjadi salah satu jalan menuju kebahagiaan. Banyak dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa orang yang berinfaq di jalan Allah akan diberi ganti oleh Allah di dunia, dan ia akan meraih pahala yang besar di akhirat. Allah – Azza Wa Jalla- berfirman,
 “Dan apa saja yang kamu infaq-kan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dialah Pemberi rizki sebaik-baiknya.” [QS. Saba’ : 39].
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Betapapun sedikitnya apa yang kamu infakkan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diperbolehkan-Nya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran”.[Tafsir Ibnu Katsir (3/595)]
Allah berjanji akan menggantikan apa saja yang diinfakkan di jalan-Nya. Sedangkan janji Allah adalah benar, tak ada keraguan di dalamnya. Karenanya, sudah seharusnya kaum muslimin berlomba untuk meraihnya, dan jangan takut dan ragu terhadap janji Allah saat setan menakut-nakutimu dengan kefakiran.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembira kepada kaum muslimin agar jangan takut bersedekah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sedekah itu tidak mengurangi harta ; Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba karena memberi maaf, kecuali kemuliaan; tidaklah seorang merendah hati karena Allah, kecuali derajatnya akan diangkat oleh Allah”. [HR. muslim]

Inilah beberapa cara untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika kita berpegang teguh dengan amalan-amalan ini, niscaya kita akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebab kebaikan adalah dengan berpegang teguh terhadap sesuatu yang disyari’atkan Allah, dan keburukan segala-galanya adalah dengan berpaling dari-Nya. [ Amru ]

Jangan Jadikan Dunia Tujuan Utamamu




Seluruh manusia pasti memiliki cita-cita, niat dan puncak keinginan. Sedangkan cita-cita, niat dan puncak keinginan itu hanya ada dua, yaitu dunia atau akhirat. Jika seseorang sudah menjadikan dunia sebagai puncak cita-citanya, sudah pasti akhirat akan dia lupakan. Dan barang siapa menjadikan akhirat menjadi puncak cita-citanya, maka dunia akan mengikutinya. Orang yang berakal adalah orang menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertingginya, sedangkan orang yang lalai adalah orang yang menjadikan kehidupan dunia sebagai puncak cita-citanya.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda tentang hal ini :
مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ جَمَعَ اللَّهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ   فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“…Barangsiapa yang puncak keinginannya adalah negeri akhirat ( yakni mencari ridho Alloh dan surga-Nya, pen ) niscaya Alloh akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa yang niyatnya untuk mencari dunia, Alloh akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya ( tidak pernah merasa cukup) dan tidaklah ia mendapatkan dunia melainkan apa yang telah ditetapkan baginya.” ( HR. Ahmad, ad-Darimi dan lafazh ini milik Ahmad. Lihat Silsilah Shahihah karya Syaikh al-Albani rohimahulloh no. 404 )

Inilah buah dari kedua puncak cita-cita tersebut. Jika kita ingin segala urusan kita dimudahkan, hati kita dikayakan, dan diberi kenikmatan dunia yang melimpah, maka jadikanlah seluruh niatan kita untuk akhirat. Akan tetapi jika kita ingin urusan kita dicerai beraikan, dijadikan hati kita selalu miskin, maka jadikanlah dunia sebagai cita-cita tertingi. Tetapi ingat bahwa kesengsaraan tidak hanya di dunia. Melainkan akan terrus berlangsung hingga di akhirat.

Marilah kita renungkan wasiat sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu ;
اِرْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ اْلآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُوْنٌ، فَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ اْلآخِرَةِ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاِء الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابٌ وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ.
Dunia akan pergi berlalu, dan akhirat akan datang menjelang, dan keduanya mempunyai generasi. Maka jadilah kalian generasi akhirat dan jangan menjadi generasi dunia. Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa hisab (perhitungan), dan besok hanya ada hisab (perhitungan) tanpa amal.’ (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq).

Ciri generasi akhirat
Para salaf radhiyallahu ‘anhum adalah generasi terbaik ummat ini. Mereka juga berkerja, menghidupi keluarga dan juga berjual beli. Akan tetapi dunia dan harta mereka berada ditangan sedangkan hati mereka dipenuhi dengan ankhirat. Berbeda dengan kebanyakan orang pada hari ini. Mereka penuhi hati mereka dengan syahwat-syahwat dunia dan kenikmatannya. Hal itulah yang menjadikan cita-cita akhirat mereka lemah, pengaruh ibadah pada akhlaq merekapun hampir tidak ada, sehingga kecintaan pada Allahpun  melemah dan mereka jadikan ibadah kepada Allah hanyalah sisa-sisa waktunya.

Syaikh Abdurrahman al Husainan dalam tulisan beliau hakadza kaana as shalihuun memberikan gambaran sifat orang yang menjadikan cita-cita tertingginya akhirat. Diantara sifat-sifat tersebut adalah ;

Pertama : Senantiasa memperbaiki diri. Ini adalah prinsip mereka pada kehidupan ini. Cara memperbaiki diri diantaranya adalah dengan bertaubat kepada Allah Ta'ala. Mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala maha pengampun, penyayang dan penerima taubah. Akan tetapi mereka tidak bersandar pada hal tersebut, bahkan mereka menyesal saat melakukan kesalahan sekecil apapun atau saat luput darinya amal-amal shalih. Mereka tahu bahwa yang mereka maksiati adalah Allah yang maha tinggi dan mulia.

Sedangkan jalan untuk memperbaiki diri yang kedua adalah thalabul 'ilmi atau mencari ilmu. Karena perbaikan diri yang tidak dibarengi dengan ilmu yang benar tidak akan banyak berguna baginya. Bahkan bisa jadi lebih parah dan jauh dari kebenaran. Sedang syarat seseorang mendapatkan kebaikan dari Allah Ta'ala adalah dengan mengnal lebih dalam syari'at-syari'atnya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَيُعْطِى اللَّهُ
Barang siapa yang dikehendaki Allah baginya kebaikan, maka akan dipahamkan atasnya tentang urusan diin. Dan sesungguhnya aku hanyalah yang membagi dan Allah yang memberi. [ HR. Muslim ]

Mereka juga bersedih saat kaum muslimin dibelahan bumi manapun dalam keadaan tertindas dan didholimi orang kafir. Jiwa mereka adalah jiwa yang dipenuhi dengan kasih saying dan kelembutan kepada sesama mukmin. Semua ini disebabkan hati mereka yang telah menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi.

Kedua : Senantiasa bermuhasabah. Anda akan melihat orang yang telah menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertingginya akan senantiasa mengevalusi setiap ucapan dan amalannya. Hal ini persis sebagaimana yang disampaikan imam Hasan Al Bashri rahimahullah saat menfsirkan surat ;

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) . [ QS. Al Kiyamah : 2 ]
Demi Allah ia adalah jiwanya seorang mukmin. Tidaklah melihatnya kecuali ia menyesali dirinya, apa maksud dari perkataanku ?. apa yang aku inginkan dengan pembicaraanku ?. sedangkan orang kafir tidak akan menghisap dirinya. [ Tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut ]

Akan tetapi kesibukan mereka dalam menghisap diri, tidak melemahkan mereka dalam usaha memperbaiki ummat. Bahkan muhasabah inilah yang menjadikan hatinya peka terhadap berbagai kebodohan ummat, kemaksiatan, dan berbagai penyelewengan terhadap syari'at. Sehingga tergugahlah jiwanya untuk berusaha memperbaiki keadaan dan bersabar atas gangguan-gangguannya.

Ketiga : Senantiasa mengingat kematian. Dikarenakan hati yang hidup, mereka senantiasa mengikatkan kegiatan dunianya dengan akhirat. Bersamaan dengan itu, mereka hidupkan hatinya dengan mengingat kematian dengan memperbanyak amal shalih hingga mendapatkan derajad yang tinggi di akhirat. Dalam hal ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هادم اللَّذَّاتِ

"Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)."[ HR. an-Nasa`i 4/4, at-Tirmidzi 2307, Ibnu Hibban 2992, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (3434) ].

Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa orang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian dan beramal untuk sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang tidak pernah mengingat kematian dan selalu berangan-angan kepada Allah dengan angan-anagan kosong.

Sebagai penutup, marilah kita renungi perkataan Imam An Nawawi yang bersya'ir ;

إِنَّ للهِ عِبَاداً فُطَنَا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الفِتَنَا
نَظَروا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوها لُجَّةً واتَّخَذُوا صَالِحَ الأَعمالِ فيها سُفُنا
Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang cerdas,
yaitu yang tidak mementingkan dunia dan takut akan fitnah
Mereka senantiasa memperhatikan, maka ketika mengetahui,
dunia ini bukanlah tempat tinggal selama-lamanya bagi yang hidup.
Merekapun menjadikan dunia bagaikan samudra
dan menjadikan amalan shalih sebagai bahtera untuk berlayar mengarunginya
[ Muqoddimah riyadhus shalihin ]

Jika kita sangat bersedih ketika hilang sedikit saja dari kenikmatan dunia, sedang hati kita tenang-tenang saja sayat terlalikan beberapa ibadah, maka cita-cita akhirat saat itu sedang melemah. Jika hati kita belum bisa meresapi alqur'an saat dibaca, sebaliknya lebih bisa meresapi nyanyian-nyanyian jahiliyah, berarti cita-cita akhirat kita sedang turun. Dan jika shalat kita belum bisa khusu' serta belum bias meresapi bacaan-bacaan shalat, bahkan terkadang teringat berbagai kesibukan-kesibukan dunia kita, saat itulah cita-cita kampung akhirat ini mulai menipis.

Saat kita memahami keadaan kita yang seperti itu, maka segeralah untuk membenahi diri. Hadiri majlis-majlis taklim, baca al qur'an serta resapi maknanya pada shalat malam kalian, serta bacalah kisah-kisah para salaf dalam kezuhudan mereka terhadap dunia. Dengan hal tersebut, insyaAllah hati kita akan terjaga dari fitnah dunia dan dan dimudahkan dari berbagai permasalahannya. [ Amru ].





PESONA DUNIA DIMATA MANUSIA


 
Dunia ini memang indah dipandang mata. Sehingga banyak mata yang terpesona melihatnya. Dunia ini memang terasa nikmat jika dirasakan. Sehingga banyak orang yang tenggelam dalam kenikmatan dan lalai akan hari kemudian. Berbahagialah orang yang bisa mengambil dunia dengan tidak tamak dan hati bersih serta hanya mencarinya dengan jalan yang halal saja. Dan celakalah orang yang terpesona dengan dunia, mencarinya dengan jalan yang tidak benar hingga ia tenggelam tanpa sadar bahwa dunia akan ia tinggalkan. Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadistnya ;

عن أبي سعيد الخدري رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ
Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Nabi saw bersabda:”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita”(HR Muslim)

Imam An Nawawi berkata ketika menjelaskan “dunia itu hijau [indah ] dan manis” : ada dua kandungan yang terdapat pada istilah tersebut. Pertama, senangnya jiwa seperti seseorang yang melihat buah-buahan yang hijau dan manis. Jiwa manusia pasti menyenangi dan berusaha untuk mendapatkannya. Itulah dunia. Yang kedua, cepatnya hilang dua sifat tersebut [ indah dan manis ]… kemudian Allah menggantikan kalian dari masa-kemasa. Dan Ia melihat apakah kalian beramal dengan mentaati-Nya atau memaksiati-Nya dan menperturutkan syahwat kalian. [ Syarkh muslim oleh An Nawawi : 9/105]

Sikap manusia terhadap dunia
Tercelanya dunia sebenarnya bukan tercelanya bumi ini dan apa-apa yang ada di dalamnya seperti laut, daratan, gunung dan yang lainnya. Akan tetapi tercelanya dunia ini dikarenakan penghunianya yang kebanyakan tidak menggunakan dunia ini dengan benar sesuai kehendak Allah Ta’ala.

Dari sinilah kita akan mempelajari kelompok manusia dan sikap mereka terhadap dunia. Tujuannya adalah agar kita terjauh dari kelompok yang dimukai Allah dalam mensikapi dunia ini. Dr. Ahmad Farid dalam buku beliau Tazkiyatun nafs wa tarbiyatuha kamaa yuqorriruha ‘Ulamaus salaf membagi menjadi dua. Diantaranya adalah :

Pertama : Orang-orang yang mengingkari bahwa tidak ada negeri kecuali dunia ini. Tidak ada pahala dan jannah serta dosa dan neraka di akhirat sana. Tentang hal ini Allah Ta’ala berfirman :

إَنَّ الَّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَاءنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّواْ بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ # أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمُ النُّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. [ QS. Yunus : 7 – 8 ].

Tidak ada dalam pikiran mereka kecuali dunia. Mulai dari tidur hingga tidur kembali tidak ada niatan lain kecuali dunia. Sehingga mereka ini disebut Allah Ta’ala seperti binatang ternak, sebagaimana dalam alqur’an ;
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. [ QS. Muhammad : 12 ].

Kedua : yaitu orang-orang yang mengakuai adanya kehidupan setelah mati. Mereka adalah orang-orang islam yang telah bersyahadat. Dan diantara merekapun terbagi menjadi tiga bagian :

1. Dholimun linafsih. Yaitu orang-orang yang mendholimin diri mereka sendiri. Kelompok ini adalah kelompok yang paling banyak. Mereka lalai akan hakekat kehidupan dunia dan isinya. Mereka cari dunia dengan tidak menghiraukan halal dan haram. Sedangkan merekapun tidak menyalurkan hartanya dalam hal-hal yang baik. Sehingga jadilah dunia menjadi cita-cita mereka tertinggi. Senang dan susah, membenci dan mencintai hanya karena dunia. Mereka inilah orang-orang yang terbuai dan tertipu dengan dunia.

Jika mereka memahami tentang iman, itupu hanya sekedar kata-kata yang diucapkan. Akan tetapi iman mereka belum bisa menuntun mereka untuk memahami hakekat dunia ini. Iman mereka belum bisa menggerakkan badannya untuk mengendalikan dunia dalam rangka taat kepada Allah. Bahkan sebaliknya, jiwa dan raganya ditunggangi dunia dan diperbudak olehnya.

2. Muqtashid. Yaitu orang-orang mukmin yang mengambil dunia dengan jalan halal. Mereka juga tunaikan hak-hak harta dunia sesuai dengan perintah islam. Mereka tidak rakus dalam mencari harta, dan bahkan menahan diri dari menumpuk-numpuk harta. Mereka takut jika harta tersebut melalaikan mereka dari dzikrullah. Merekapun takut jika harta tersebut mereka gunakan untuk bermewah-mewah dan bermegah-megah serta kesombongan. Inilah derajad pertengahan tentang sikap seorang mukmin terhadap dunianya.

3. Sabiqun bil khoirot. Yaitu derajad orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Tidaklah mereka memilih sesuatu dengan pertimbangan halal atau haram saja. Tetapi mereka lebih memilih mana yang paling baik bagi saya dan untuk akhirat saya.

Mereka inilah orang-orang yang paham terhadap tujuan Allah menciptakan dunia ini. Yaitu untuk menguji hambanya siapakah yang paling baik amalnya. Dengan kepahaman itulah mereka beramal semaksimal mungkin untuk mendapatkan derajad tertinggi di akhirat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. [ QS. Al Kahfi : 7 ].

Mereka kurangi beban-beban dunia agar lebih ringan dan tidak menyibukkan mereka dengan harta tersebut. Sabiqun bil khoirat ini mencukupkan dunia sebagaimana seorang musafir yang membutuh perbekalan seadanya hanya untuk mempertahankan diri selama perjalanan. Mereka paham betul dengan hadist Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ;

مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)

Itulah ucapan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang ditiru oleh mereka. Bukan berarti mereka lari dari dunia dan hidup dengan meminta. Tetapi saat hati mereka mengarah pada dunia, mereka pupus niatan-niatan dunia tersebut, kemudian ia arahkah hatinya untuk niatan akhirat. Sehingga tidaklah ia mencari rizki, makan, tidur dan seluruh aktifitas mereka kecuali untuk akhiratnya.

مَتَاعُ الغُرُوْرِ مَا يُلْهِيْكَ عَنْ طَلَبِ الْآَخِرَةِ , وَمَا لَمْ يُلْهِكَ فَلَيْسَ بِمَتَاعِ الْغُرُوْرِ وَلَكِنَّهُ مَتَاعٌ بَلاَغٌ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ

[ Dunia ] adalah kesenangan yang menipu jika melalaikanmu dari mencari akhirat, sedangkan apa saja yang tidak melalaikanmu dari akhirat bukanlah kesenangan yang menipu, tetapi ia dianggap kesenangan yang menghantarkan pada sesuatu yang lebih baik (akhirat)" ( Jami' al-Ulum wal Hikam, hlm 360).

Jika Allah mentaqdirkan kita menjadi orang yang berlebih dalam hal harta, maka jadilah seperti Rasulullah sallalllahu alaihi wasallam yang sebenarnya kaya jika beliau mau mengambil bagian harta dari rampasan perang. Tetapi beliau lebih suka hidup sederhana yang kadang beberapa hari tidak mengepul asap dirumahnya. Bahkan alas tidur beliau adalah tikar yang meninggalkan bekas di badan saat setelah memakainya.

Atau seperti Abdurrahman bin ‘Auf. Seorang jutawan dan milyader yang hartanya dipergunakan untuk perjuangan islam dan menegakkan diin ini. Beliau tidak menggunakan hartanya untuk kepentingan pribadi dan bermegah-megahan. Bahkan beliau jarang makan makanan yang lezat karena takut kenikmatan di akhirat akan terkurangi dengan kenikmatan dunia yang beliau rasakan. Inilah hakekat zuhud. Yaitu meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat dan membahayakan pada kehidupan akhirat.

Cinta pada dunia yang mendalam memang akan membahayakan akhirat kita. Sebaliknya, cinta akhirat yang mendalam pasti akan membahayakan dunianya. Dan sebagai seorang mukmin harus lebih mengutamakan yang kekal dibandingkan yang fana.

Sekarang, dimanakah posisi kita ?. Apakah termasuk dari sabiqun bil khairat, atau muqtashid ?. yang jelas jangan menjadi yang dhalimun linafsih, dan kita berusaha untuk menjadi shabiqun bil hairat. Jadikanlah orientasi hidup kita akhirat, dan jangan menjadikan dunia sebagai orentasi hidup kita. waAllahu a’lam bis shawab. [ Amru ].




HAKEKAT KEHIDUPAN DUNIA



Semua orang yakin bahwa hidup di dunia hanya sementara, sedangkan akhirat adalah tempat kembali mereka. Tetapi banyak orang yang tidak sadar akan kehidupan yang akan ia jalani nantinya. Padahal waktu terus berjalan seiring perjalanan hidup seseorang menuju kematiannya. Bergantinya hari kehari, bulan kebulan dan tahun ketahun, akan mendekatkannya pada saat yang telah ditetapkan yaitu kematian. Benarlah perkataan seorang tabi’in Hasan Al Bashri rahimahullah ;

يَا ابْنَ آدَم إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

 Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu. [ Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi ].
Memang, dunia bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Namun dunia bisa menjadi penghalang untuk bisa sampai kepada Allah. Harta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang di benci. Namun, harta itu tercela jika dia melalaikan dari mengingat Allah. Betapa banyak kaum muslimin yang tertipu dengan gemerlap dunia sehingga lupa akan tujuan penciptaannya. Mereka kumpulkan harta siang dan malam hingga meninggalkan berbagai kewajiban agamanya. Ia bangun rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan popularitas serta kedudukan yang tinggi dihadapan manusia. Sementara mereka lupa akan infaq dan shadaqoh serta beramal shalih lainnya untuk mendapatkan kedudukan yang mulia dihadapan Allah Ta’ala.
Ironisnya, mereka tidak menyadari hal tersebut dan ketika mereka ditanya, “Apakah yang kalian inginkan, dunia ataukah akhirat ?” Serentak menjawab, “kami menginginkan akhirat!” Padahal keadaan amalan mereka menjadi saksi atas kedustaan ucapannya tersebut.
Apa hakekat kehidupan dunia ?
Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini. Kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Maka jika Allah memberi nikmat pada kita sehingga bisa memahami hakikat dunia ini, yaitu bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hati kita akan menjadi sehat. Adapun jika kita lalai tentang hakikat ini, maka kematian dapat menimpa hati kita. Diantara hakekat dunia yang disebutkan dalam al qur’an dan as sunnah adalah :
Pertama : Dunia adalah kesenangan yang menipu. Yaitu kesenangan yang hilang saat ajal menjemput. Kesenangan yang tidak abadi dan hanya bersifat sementara. hal ini sebagaimana friman Allah Ta’ala ;
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [ QS. Al hadid : 20 ].
Imam Ibnu Katsir berkata : dunia adalah kesenangan yang fana dan menipu. Bagi siapa yang cenderung kepadanya maka ia tertipu dan ta’ajjub dengannya, sampai ia berkayakinan tidak ada tempat tinggal selainnya dan tidak ada tempat kembali setelahnya. Padahal ia adalah hina dan rendah dibandingkan negeri akhirat. [ Tafsir Ibnu katsir pada ayat tersebut ].
Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya ;
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shohihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)
Perlu kiranya kita merenungkan hadits ini dengan seksama, di golongan manakah diri kita berada. Apakah kita termasuk golongan yang mendapat rahmat dan terjauh dari laknat ataukah sebaliknya diri kita justru termasuk orang-orang yang mendapat laknat, menjadi budak dunia dikarenakan sebagian besar aktivitas kita atau bahkan seluruhnya hanya bertujuan untuk meraih kenikmatan dunia yang fana ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela orang-orang yang tunduk pada dunia dan semata-mata tujuannya adalah mencari dunia dalam sabda beliau:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ
“Celakalah budak dinar (uang emas), celakalah budak dirham (uang perak), celakalah budak khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah budak khamilah (ranjang yang empuk).” (HR. Bukhari)
Inilah celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang kesehariannya menjadi budak harta dan berbagai kesenangan dunia. Renungkanlah dengan penuh kejujuran dan jawablah di golongan manakah diri kita berada? Apakah kita termasuk orang yang menjadi budak dunia ataukah orang yang tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah? Renungkanlah sekali lagi hal ini!
Kedua : Dunia adalah surganya orang kafir dan penjaranya orang beriman. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah sallallhu alaihi wasallam ;
عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، أَن ّالنَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Ibnu Umar bahwasanya nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda : Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. [ HR. Muslim ].
Imam An Nawawi dalam syarh Muslim menjelaskan : “Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.
Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.” (Syarah Shahih Muslim No. 5256).
Bukan berarti orang beriman tidak boleh kaya, memiliki kendaraan yang bagus dan juga rumah yang indah pula. Akan tetapi, kenikmatan seorang mukmin di dunia jika dibandingkan jannah di akhirat sangat jauh sekali. Seakan-akan dunia ini adalah penjara bila dibandingkan jannah di akhirat.
Sedangkan orang kafir walaupun mereka menjadi orang yang paling miskin sekalipun, mereka tetap menjadikan dunia ini menjadi surganya mereka dibandingkan siksa yang pedih di akhirat sana.
Maka alangkah indahnya menjadi orang mukmin karena betapapun berat dalam menghadapi dunia ia tetap mengharapkan indahnya jannah di akhirat. Dan sungguh celaka orang kafir karena kenikmatan dunia ini hanya akan mereka rasakan sesaat, sementara meraka telah menantinya.
Kaitkanlah Hatimu Dengan Akhirat
Saudaraku, jangan jadikan hatimu terkait dengan dunia, jangan sampai dunia masuk ke dalam hatimu dan bercokol di dalamnya, teladanilah generasi terbaik umat ini, mereka menggenggam dunia, namun cukup sampai di situ dan tidak merasuk ke dalam hati. Maka jadilah mereka generasi yang mencurahkan segenap jiwa raganya untuk kehidupan akhirat, dunia sebatas di genggaman mereka sehingga mudah dilepaskan, mudah untuk diinfakkan di jalan Allah. Adapun kita wahai kaum muslimin, aina nahnu min haaulaai (di manakah kedudukan kita jika dibandingkan mereka)? Di mana?! Tentu sangat jauh dari mereka!
Oleh karena itu wajib bagi diriku dan dirimu untuk merenungi sekali lagi bahkan senantiasa merenungi apakah tujuan kita diciptakan di dunia ini. Sangat mengherankan jika seorang muslim telah mengetahui tujuan penciptaannya kemudian lalai dari hal tersebut, bukankah inilah puncak kedunguan?! Sekali lagi, mari kita senantiasa mengaitkan amalan kita dengan akhirat, jika anda seorang yang mempelajari ilmu dunia, maka niatkanlah untuk akhirat, niatkanlah bahwa dirimu dengan ilmu tersebut akan membantu kebangkitan kaum muslimin. Jika anda seorang pengajar, dosen atau semisalnya, maka niatkanlah aktivitas mengajar anda untuk akhirat dan kebangkitan kaum muslimin, demikian juga seluruh profesi, maka niatkanlah untuk akhirat.
Namun apabila niat anda justru sebaliknya, anda belajar, mengajarkan ilmu dunia, berbisnis dan melakukan aktivitas dunia lainnya hanya sekedar untuk mendapatkan dunia, maka anda telah merugi karena telah melewatkan keuntungan yang amat banyak dan janganlah anda mencela kecuali diri anda sendiri.
Sebagai penutup, marilah kita berdo’a dengan do’a yang diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Semoga kita dijaga oleh Allah dari berbagai fitnah dunia dan dipertemukan dengan-Nya dalam keadaan husnul khotimah.
اَللّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
“Ya Allah, janganlah engkau jadikan musibah dalam urusan agama kami, dan jangan pula engkau jadikan dunia ini adalah tujuan terbesar dan puncak dari ilmu kami.” (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).