Sabtu, 10 Desember 2011

Jangan Jadikan Dunia Tujuan Utamamu




Seluruh manusia pasti memiliki cita-cita, niat dan puncak keinginan. Sedangkan cita-cita, niat dan puncak keinginan itu hanya ada dua, yaitu dunia atau akhirat. Jika seseorang sudah menjadikan dunia sebagai puncak cita-citanya, sudah pasti akhirat akan dia lupakan. Dan barang siapa menjadikan akhirat menjadi puncak cita-citanya, maka dunia akan mengikutinya. Orang yang berakal adalah orang menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertingginya, sedangkan orang yang lalai adalah orang yang menjadikan kehidupan dunia sebagai puncak cita-citanya.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda tentang hal ini :
مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ جَمَعَ اللَّهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ   فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“…Barangsiapa yang puncak keinginannya adalah negeri akhirat ( yakni mencari ridho Alloh dan surga-Nya, pen ) niscaya Alloh akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa yang niyatnya untuk mencari dunia, Alloh akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya ( tidak pernah merasa cukup) dan tidaklah ia mendapatkan dunia melainkan apa yang telah ditetapkan baginya.” ( HR. Ahmad, ad-Darimi dan lafazh ini milik Ahmad. Lihat Silsilah Shahihah karya Syaikh al-Albani rohimahulloh no. 404 )

Inilah buah dari kedua puncak cita-cita tersebut. Jika kita ingin segala urusan kita dimudahkan, hati kita dikayakan, dan diberi kenikmatan dunia yang melimpah, maka jadikanlah seluruh niatan kita untuk akhirat. Akan tetapi jika kita ingin urusan kita dicerai beraikan, dijadikan hati kita selalu miskin, maka jadikanlah dunia sebagai cita-cita tertingi. Tetapi ingat bahwa kesengsaraan tidak hanya di dunia. Melainkan akan terrus berlangsung hingga di akhirat.

Marilah kita renungkan wasiat sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu ;
اِرْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ اْلآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُوْنٌ، فَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ اْلآخِرَةِ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاِء الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابٌ وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ.
Dunia akan pergi berlalu, dan akhirat akan datang menjelang, dan keduanya mempunyai generasi. Maka jadilah kalian generasi akhirat dan jangan menjadi generasi dunia. Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa hisab (perhitungan), dan besok hanya ada hisab (perhitungan) tanpa amal.’ (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq).

Ciri generasi akhirat
Para salaf radhiyallahu ‘anhum adalah generasi terbaik ummat ini. Mereka juga berkerja, menghidupi keluarga dan juga berjual beli. Akan tetapi dunia dan harta mereka berada ditangan sedangkan hati mereka dipenuhi dengan ankhirat. Berbeda dengan kebanyakan orang pada hari ini. Mereka penuhi hati mereka dengan syahwat-syahwat dunia dan kenikmatannya. Hal itulah yang menjadikan cita-cita akhirat mereka lemah, pengaruh ibadah pada akhlaq merekapun hampir tidak ada, sehingga kecintaan pada Allahpun  melemah dan mereka jadikan ibadah kepada Allah hanyalah sisa-sisa waktunya.

Syaikh Abdurrahman al Husainan dalam tulisan beliau hakadza kaana as shalihuun memberikan gambaran sifat orang yang menjadikan cita-cita tertingginya akhirat. Diantara sifat-sifat tersebut adalah ;

Pertama : Senantiasa memperbaiki diri. Ini adalah prinsip mereka pada kehidupan ini. Cara memperbaiki diri diantaranya adalah dengan bertaubat kepada Allah Ta'ala. Mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala maha pengampun, penyayang dan penerima taubah. Akan tetapi mereka tidak bersandar pada hal tersebut, bahkan mereka menyesal saat melakukan kesalahan sekecil apapun atau saat luput darinya amal-amal shalih. Mereka tahu bahwa yang mereka maksiati adalah Allah yang maha tinggi dan mulia.

Sedangkan jalan untuk memperbaiki diri yang kedua adalah thalabul 'ilmi atau mencari ilmu. Karena perbaikan diri yang tidak dibarengi dengan ilmu yang benar tidak akan banyak berguna baginya. Bahkan bisa jadi lebih parah dan jauh dari kebenaran. Sedang syarat seseorang mendapatkan kebaikan dari Allah Ta'ala adalah dengan mengnal lebih dalam syari'at-syari'atnya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَيُعْطِى اللَّهُ
Barang siapa yang dikehendaki Allah baginya kebaikan, maka akan dipahamkan atasnya tentang urusan diin. Dan sesungguhnya aku hanyalah yang membagi dan Allah yang memberi. [ HR. Muslim ]

Mereka juga bersedih saat kaum muslimin dibelahan bumi manapun dalam keadaan tertindas dan didholimi orang kafir. Jiwa mereka adalah jiwa yang dipenuhi dengan kasih saying dan kelembutan kepada sesama mukmin. Semua ini disebabkan hati mereka yang telah menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi.

Kedua : Senantiasa bermuhasabah. Anda akan melihat orang yang telah menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertingginya akan senantiasa mengevalusi setiap ucapan dan amalannya. Hal ini persis sebagaimana yang disampaikan imam Hasan Al Bashri rahimahullah saat menfsirkan surat ;

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) . [ QS. Al Kiyamah : 2 ]
Demi Allah ia adalah jiwanya seorang mukmin. Tidaklah melihatnya kecuali ia menyesali dirinya, apa maksud dari perkataanku ?. apa yang aku inginkan dengan pembicaraanku ?. sedangkan orang kafir tidak akan menghisap dirinya. [ Tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut ]

Akan tetapi kesibukan mereka dalam menghisap diri, tidak melemahkan mereka dalam usaha memperbaiki ummat. Bahkan muhasabah inilah yang menjadikan hatinya peka terhadap berbagai kebodohan ummat, kemaksiatan, dan berbagai penyelewengan terhadap syari'at. Sehingga tergugahlah jiwanya untuk berusaha memperbaiki keadaan dan bersabar atas gangguan-gangguannya.

Ketiga : Senantiasa mengingat kematian. Dikarenakan hati yang hidup, mereka senantiasa mengikatkan kegiatan dunianya dengan akhirat. Bersamaan dengan itu, mereka hidupkan hatinya dengan mengingat kematian dengan memperbanyak amal shalih hingga mendapatkan derajad yang tinggi di akhirat. Dalam hal ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هادم اللَّذَّاتِ

"Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)."[ HR. an-Nasa`i 4/4, at-Tirmidzi 2307, Ibnu Hibban 2992, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (3434) ].

Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa orang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian dan beramal untuk sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang tidak pernah mengingat kematian dan selalu berangan-angan kepada Allah dengan angan-anagan kosong.

Sebagai penutup, marilah kita renungi perkataan Imam An Nawawi yang bersya'ir ;

إِنَّ للهِ عِبَاداً فُطَنَا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الفِتَنَا
نَظَروا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوها لُجَّةً واتَّخَذُوا صَالِحَ الأَعمالِ فيها سُفُنا
Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang cerdas,
yaitu yang tidak mementingkan dunia dan takut akan fitnah
Mereka senantiasa memperhatikan, maka ketika mengetahui,
dunia ini bukanlah tempat tinggal selama-lamanya bagi yang hidup.
Merekapun menjadikan dunia bagaikan samudra
dan menjadikan amalan shalih sebagai bahtera untuk berlayar mengarunginya
[ Muqoddimah riyadhus shalihin ]

Jika kita sangat bersedih ketika hilang sedikit saja dari kenikmatan dunia, sedang hati kita tenang-tenang saja sayat terlalikan beberapa ibadah, maka cita-cita akhirat saat itu sedang melemah. Jika hati kita belum bisa meresapi alqur'an saat dibaca, sebaliknya lebih bisa meresapi nyanyian-nyanyian jahiliyah, berarti cita-cita akhirat kita sedang turun. Dan jika shalat kita belum bisa khusu' serta belum bias meresapi bacaan-bacaan shalat, bahkan terkadang teringat berbagai kesibukan-kesibukan dunia kita, saat itulah cita-cita kampung akhirat ini mulai menipis.

Saat kita memahami keadaan kita yang seperti itu, maka segeralah untuk membenahi diri. Hadiri majlis-majlis taklim, baca al qur'an serta resapi maknanya pada shalat malam kalian, serta bacalah kisah-kisah para salaf dalam kezuhudan mereka terhadap dunia. Dengan hal tersebut, insyaAllah hati kita akan terjaga dari fitnah dunia dan dan dimudahkan dari berbagai permasalahannya. [ Amru ].





PESONA DUNIA DIMATA MANUSIA


 
Dunia ini memang indah dipandang mata. Sehingga banyak mata yang terpesona melihatnya. Dunia ini memang terasa nikmat jika dirasakan. Sehingga banyak orang yang tenggelam dalam kenikmatan dan lalai akan hari kemudian. Berbahagialah orang yang bisa mengambil dunia dengan tidak tamak dan hati bersih serta hanya mencarinya dengan jalan yang halal saja. Dan celakalah orang yang terpesona dengan dunia, mencarinya dengan jalan yang tidak benar hingga ia tenggelam tanpa sadar bahwa dunia akan ia tinggalkan. Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadistnya ;

عن أبي سعيد الخدري رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ
Dari Abu Said Al-Khudri ra dari Nabi saw bersabda:”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita”(HR Muslim)

Imam An Nawawi berkata ketika menjelaskan “dunia itu hijau [indah ] dan manis” : ada dua kandungan yang terdapat pada istilah tersebut. Pertama, senangnya jiwa seperti seseorang yang melihat buah-buahan yang hijau dan manis. Jiwa manusia pasti menyenangi dan berusaha untuk mendapatkannya. Itulah dunia. Yang kedua, cepatnya hilang dua sifat tersebut [ indah dan manis ]… kemudian Allah menggantikan kalian dari masa-kemasa. Dan Ia melihat apakah kalian beramal dengan mentaati-Nya atau memaksiati-Nya dan menperturutkan syahwat kalian. [ Syarkh muslim oleh An Nawawi : 9/105]

Sikap manusia terhadap dunia
Tercelanya dunia sebenarnya bukan tercelanya bumi ini dan apa-apa yang ada di dalamnya seperti laut, daratan, gunung dan yang lainnya. Akan tetapi tercelanya dunia ini dikarenakan penghunianya yang kebanyakan tidak menggunakan dunia ini dengan benar sesuai kehendak Allah Ta’ala.

Dari sinilah kita akan mempelajari kelompok manusia dan sikap mereka terhadap dunia. Tujuannya adalah agar kita terjauh dari kelompok yang dimukai Allah dalam mensikapi dunia ini. Dr. Ahmad Farid dalam buku beliau Tazkiyatun nafs wa tarbiyatuha kamaa yuqorriruha ‘Ulamaus salaf membagi menjadi dua. Diantaranya adalah :

Pertama : Orang-orang yang mengingkari bahwa tidak ada negeri kecuali dunia ini. Tidak ada pahala dan jannah serta dosa dan neraka di akhirat sana. Tentang hal ini Allah Ta’ala berfirman :

إَنَّ الَّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَاءنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّواْ بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ # أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمُ النُّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. [ QS. Yunus : 7 – 8 ].

Tidak ada dalam pikiran mereka kecuali dunia. Mulai dari tidur hingga tidur kembali tidak ada niatan lain kecuali dunia. Sehingga mereka ini disebut Allah Ta’ala seperti binatang ternak, sebagaimana dalam alqur’an ;
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. [ QS. Muhammad : 12 ].

Kedua : yaitu orang-orang yang mengakuai adanya kehidupan setelah mati. Mereka adalah orang-orang islam yang telah bersyahadat. Dan diantara merekapun terbagi menjadi tiga bagian :

1. Dholimun linafsih. Yaitu orang-orang yang mendholimin diri mereka sendiri. Kelompok ini adalah kelompok yang paling banyak. Mereka lalai akan hakekat kehidupan dunia dan isinya. Mereka cari dunia dengan tidak menghiraukan halal dan haram. Sedangkan merekapun tidak menyalurkan hartanya dalam hal-hal yang baik. Sehingga jadilah dunia menjadi cita-cita mereka tertinggi. Senang dan susah, membenci dan mencintai hanya karena dunia. Mereka inilah orang-orang yang terbuai dan tertipu dengan dunia.

Jika mereka memahami tentang iman, itupu hanya sekedar kata-kata yang diucapkan. Akan tetapi iman mereka belum bisa menuntun mereka untuk memahami hakekat dunia ini. Iman mereka belum bisa menggerakkan badannya untuk mengendalikan dunia dalam rangka taat kepada Allah. Bahkan sebaliknya, jiwa dan raganya ditunggangi dunia dan diperbudak olehnya.

2. Muqtashid. Yaitu orang-orang mukmin yang mengambil dunia dengan jalan halal. Mereka juga tunaikan hak-hak harta dunia sesuai dengan perintah islam. Mereka tidak rakus dalam mencari harta, dan bahkan menahan diri dari menumpuk-numpuk harta. Mereka takut jika harta tersebut melalaikan mereka dari dzikrullah. Merekapun takut jika harta tersebut mereka gunakan untuk bermewah-mewah dan bermegah-megah serta kesombongan. Inilah derajad pertengahan tentang sikap seorang mukmin terhadap dunianya.

3. Sabiqun bil khoirot. Yaitu derajad orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Tidaklah mereka memilih sesuatu dengan pertimbangan halal atau haram saja. Tetapi mereka lebih memilih mana yang paling baik bagi saya dan untuk akhirat saya.

Mereka inilah orang-orang yang paham terhadap tujuan Allah menciptakan dunia ini. Yaitu untuk menguji hambanya siapakah yang paling baik amalnya. Dengan kepahaman itulah mereka beramal semaksimal mungkin untuk mendapatkan derajad tertinggi di akhirat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. [ QS. Al Kahfi : 7 ].

Mereka kurangi beban-beban dunia agar lebih ringan dan tidak menyibukkan mereka dengan harta tersebut. Sabiqun bil khoirat ini mencukupkan dunia sebagaimana seorang musafir yang membutuh perbekalan seadanya hanya untuk mempertahankan diri selama perjalanan. Mereka paham betul dengan hadist Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ;

مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)

Itulah ucapan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang ditiru oleh mereka. Bukan berarti mereka lari dari dunia dan hidup dengan meminta. Tetapi saat hati mereka mengarah pada dunia, mereka pupus niatan-niatan dunia tersebut, kemudian ia arahkah hatinya untuk niatan akhirat. Sehingga tidaklah ia mencari rizki, makan, tidur dan seluruh aktifitas mereka kecuali untuk akhiratnya.

مَتَاعُ الغُرُوْرِ مَا يُلْهِيْكَ عَنْ طَلَبِ الْآَخِرَةِ , وَمَا لَمْ يُلْهِكَ فَلَيْسَ بِمَتَاعِ الْغُرُوْرِ وَلَكِنَّهُ مَتَاعٌ بَلاَغٌ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ

[ Dunia ] adalah kesenangan yang menipu jika melalaikanmu dari mencari akhirat, sedangkan apa saja yang tidak melalaikanmu dari akhirat bukanlah kesenangan yang menipu, tetapi ia dianggap kesenangan yang menghantarkan pada sesuatu yang lebih baik (akhirat)" ( Jami' al-Ulum wal Hikam, hlm 360).

Jika Allah mentaqdirkan kita menjadi orang yang berlebih dalam hal harta, maka jadilah seperti Rasulullah sallalllahu alaihi wasallam yang sebenarnya kaya jika beliau mau mengambil bagian harta dari rampasan perang. Tetapi beliau lebih suka hidup sederhana yang kadang beberapa hari tidak mengepul asap dirumahnya. Bahkan alas tidur beliau adalah tikar yang meninggalkan bekas di badan saat setelah memakainya.

Atau seperti Abdurrahman bin ‘Auf. Seorang jutawan dan milyader yang hartanya dipergunakan untuk perjuangan islam dan menegakkan diin ini. Beliau tidak menggunakan hartanya untuk kepentingan pribadi dan bermegah-megahan. Bahkan beliau jarang makan makanan yang lezat karena takut kenikmatan di akhirat akan terkurangi dengan kenikmatan dunia yang beliau rasakan. Inilah hakekat zuhud. Yaitu meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat dan membahayakan pada kehidupan akhirat.

Cinta pada dunia yang mendalam memang akan membahayakan akhirat kita. Sebaliknya, cinta akhirat yang mendalam pasti akan membahayakan dunianya. Dan sebagai seorang mukmin harus lebih mengutamakan yang kekal dibandingkan yang fana.

Sekarang, dimanakah posisi kita ?. Apakah termasuk dari sabiqun bil khairat, atau muqtashid ?. yang jelas jangan menjadi yang dhalimun linafsih, dan kita berusaha untuk menjadi shabiqun bil hairat. Jadikanlah orientasi hidup kita akhirat, dan jangan menjadikan dunia sebagai orentasi hidup kita. waAllahu a’lam bis shawab. [ Amru ].




HAKEKAT KEHIDUPAN DUNIA



Semua orang yakin bahwa hidup di dunia hanya sementara, sedangkan akhirat adalah tempat kembali mereka. Tetapi banyak orang yang tidak sadar akan kehidupan yang akan ia jalani nantinya. Padahal waktu terus berjalan seiring perjalanan hidup seseorang menuju kematiannya. Bergantinya hari kehari, bulan kebulan dan tahun ketahun, akan mendekatkannya pada saat yang telah ditetapkan yaitu kematian. Benarlah perkataan seorang tabi’in Hasan Al Bashri rahimahullah ;

يَا ابْنَ آدَم إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

 Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu. [ Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi ].
Memang, dunia bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Namun dunia bisa menjadi penghalang untuk bisa sampai kepada Allah. Harta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang di benci. Namun, harta itu tercela jika dia melalaikan dari mengingat Allah. Betapa banyak kaum muslimin yang tertipu dengan gemerlap dunia sehingga lupa akan tujuan penciptaannya. Mereka kumpulkan harta siang dan malam hingga meninggalkan berbagai kewajiban agamanya. Ia bangun rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan popularitas serta kedudukan yang tinggi dihadapan manusia. Sementara mereka lupa akan infaq dan shadaqoh serta beramal shalih lainnya untuk mendapatkan kedudukan yang mulia dihadapan Allah Ta’ala.
Ironisnya, mereka tidak menyadari hal tersebut dan ketika mereka ditanya, “Apakah yang kalian inginkan, dunia ataukah akhirat ?” Serentak menjawab, “kami menginginkan akhirat!” Padahal keadaan amalan mereka menjadi saksi atas kedustaan ucapannya tersebut.
Apa hakekat kehidupan dunia ?
Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini. Kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Maka jika Allah memberi nikmat pada kita sehingga bisa memahami hakikat dunia ini, yaitu bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hati kita akan menjadi sehat. Adapun jika kita lalai tentang hakikat ini, maka kematian dapat menimpa hati kita. Diantara hakekat dunia yang disebutkan dalam al qur’an dan as sunnah adalah :
Pertama : Dunia adalah kesenangan yang menipu. Yaitu kesenangan yang hilang saat ajal menjemput. Kesenangan yang tidak abadi dan hanya bersifat sementara. hal ini sebagaimana friman Allah Ta’ala ;
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [ QS. Al hadid : 20 ].
Imam Ibnu Katsir berkata : dunia adalah kesenangan yang fana dan menipu. Bagi siapa yang cenderung kepadanya maka ia tertipu dan ta’ajjub dengannya, sampai ia berkayakinan tidak ada tempat tinggal selainnya dan tidak ada tempat kembali setelahnya. Padahal ia adalah hina dan rendah dibandingkan negeri akhirat. [ Tafsir Ibnu katsir pada ayat tersebut ].
Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya ;
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shohihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)
Perlu kiranya kita merenungkan hadits ini dengan seksama, di golongan manakah diri kita berada. Apakah kita termasuk golongan yang mendapat rahmat dan terjauh dari laknat ataukah sebaliknya diri kita justru termasuk orang-orang yang mendapat laknat, menjadi budak dunia dikarenakan sebagian besar aktivitas kita atau bahkan seluruhnya hanya bertujuan untuk meraih kenikmatan dunia yang fana ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela orang-orang yang tunduk pada dunia dan semata-mata tujuannya adalah mencari dunia dalam sabda beliau:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ
“Celakalah budak dinar (uang emas), celakalah budak dirham (uang perak), celakalah budak khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah budak khamilah (ranjang yang empuk).” (HR. Bukhari)
Inilah celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang kesehariannya menjadi budak harta dan berbagai kesenangan dunia. Renungkanlah dengan penuh kejujuran dan jawablah di golongan manakah diri kita berada? Apakah kita termasuk orang yang menjadi budak dunia ataukah orang yang tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah? Renungkanlah sekali lagi hal ini!
Kedua : Dunia adalah surganya orang kafir dan penjaranya orang beriman. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah sallallhu alaihi wasallam ;
عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، أَن ّالنَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Dari Ibnu Umar bahwasanya nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda : Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. [ HR. Muslim ].
Imam An Nawawi dalam syarh Muslim menjelaskan : “Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.
Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.” (Syarah Shahih Muslim No. 5256).
Bukan berarti orang beriman tidak boleh kaya, memiliki kendaraan yang bagus dan juga rumah yang indah pula. Akan tetapi, kenikmatan seorang mukmin di dunia jika dibandingkan jannah di akhirat sangat jauh sekali. Seakan-akan dunia ini adalah penjara bila dibandingkan jannah di akhirat.
Sedangkan orang kafir walaupun mereka menjadi orang yang paling miskin sekalipun, mereka tetap menjadikan dunia ini menjadi surganya mereka dibandingkan siksa yang pedih di akhirat sana.
Maka alangkah indahnya menjadi orang mukmin karena betapapun berat dalam menghadapi dunia ia tetap mengharapkan indahnya jannah di akhirat. Dan sungguh celaka orang kafir karena kenikmatan dunia ini hanya akan mereka rasakan sesaat, sementara meraka telah menantinya.
Kaitkanlah Hatimu Dengan Akhirat
Saudaraku, jangan jadikan hatimu terkait dengan dunia, jangan sampai dunia masuk ke dalam hatimu dan bercokol di dalamnya, teladanilah generasi terbaik umat ini, mereka menggenggam dunia, namun cukup sampai di situ dan tidak merasuk ke dalam hati. Maka jadilah mereka generasi yang mencurahkan segenap jiwa raganya untuk kehidupan akhirat, dunia sebatas di genggaman mereka sehingga mudah dilepaskan, mudah untuk diinfakkan di jalan Allah. Adapun kita wahai kaum muslimin, aina nahnu min haaulaai (di manakah kedudukan kita jika dibandingkan mereka)? Di mana?! Tentu sangat jauh dari mereka!
Oleh karena itu wajib bagi diriku dan dirimu untuk merenungi sekali lagi bahkan senantiasa merenungi apakah tujuan kita diciptakan di dunia ini. Sangat mengherankan jika seorang muslim telah mengetahui tujuan penciptaannya kemudian lalai dari hal tersebut, bukankah inilah puncak kedunguan?! Sekali lagi, mari kita senantiasa mengaitkan amalan kita dengan akhirat, jika anda seorang yang mempelajari ilmu dunia, maka niatkanlah untuk akhirat, niatkanlah bahwa dirimu dengan ilmu tersebut akan membantu kebangkitan kaum muslimin. Jika anda seorang pengajar, dosen atau semisalnya, maka niatkanlah aktivitas mengajar anda untuk akhirat dan kebangkitan kaum muslimin, demikian juga seluruh profesi, maka niatkanlah untuk akhirat.
Namun apabila niat anda justru sebaliknya, anda belajar, mengajarkan ilmu dunia, berbisnis dan melakukan aktivitas dunia lainnya hanya sekedar untuk mendapatkan dunia, maka anda telah merugi karena telah melewatkan keuntungan yang amat banyak dan janganlah anda mencela kecuali diri anda sendiri.
Sebagai penutup, marilah kita berdo’a dengan do’a yang diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Semoga kita dijaga oleh Allah dari berbagai fitnah dunia dan dipertemukan dengan-Nya dalam keadaan husnul khotimah.
اَللّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
“Ya Allah, janganlah engkau jadikan musibah dalam urusan agama kami, dan jangan pula engkau jadikan dunia ini adalah tujuan terbesar dan puncak dari ilmu kami.” (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

Selasa, 06 September 2011

Saat Musibah Terasa Nikmat


Musibah memang sesutu yang tidak dicari. Ia datang menghampiri dalam keadaan suka ataupun tidak suka, siap ataupun tidak siap. Kadang banyak orang yang gundah gulana dan merasa sempit saat musibah menghapiri. Berprasangka buruk pada Allah dan bahkan ada yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Tak sedikit diantara manusia yang tersesat dengan pergi kedukun dan meminta untuk disembuhkan penyakitnya. Banyak juga yang mendatangi tempat-tempat keramat untuk mencari keberkahan walau harus mengorbankan aqidahnya.

Bagi orang yang beriman, musibah bisa menjadi sebuah nikmat. Dengan kesabaran dan keyakinan nya bahwa ia akan mendapat balasan pahala di akhirat. Dan juga kedudukan tinggi yang tidak didapat kecuali melalui ujian tersebut. Maka musibah yang ia derita menjadi sebuah kenikmatan. Semuanya itu dikarenakan harapan yang kuat bahwa Allah akan mengganti musibah tersebut dengan kenikmatan jannah.

Walau demikian, tidak diperbolehkan seseorang berdo’a untuk mendapatkan musibah. Karena kita diperintah untuk berdo’a agar mendapatkan keselamatan. Bukan malah berdo’a untuk mendapatkan kecelakaan. Tetapi jika memang Allah taqdirkan kita harus menanggung musibah, kita harus hadapi dengan perasaan ridho, kesabaran serta mengharap pahala di akhirat nanti. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda : 

لا يَنْبَغِي لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَذِلَّ نَفْسَهُ, قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , وَكَيْفَ يَذِلُّ نَفْسَهُ؟ قَالَ:أَنْ يَتَعَرَّضَ مِنَ الْبَلاءِ لِمَا لا يُطِيقُ
Tidak selayaknya seorang mukmin untuk menghinakan dirinya. Dikatan : Ya Rasululallah, bagaimana ia menghinakan dirinya ?. Beliau berkata : Ia meminta ujian dari apa-apa yang tidak ia sanggupi. [ Shahih sunan Ibnu Majah : 3243 ].

Tips agar musibah menjadi  nikmat
Memang musibah itu sesuatu yang kurang mengenakkan. Entah itu hilangnya harta benda, cacatnya anggota badan kita, berpisahnya kita dari orang-orang yang kita cintai, hilangnya pekerjaan kita dan yang lainnya. Tetapi semuanya bisa menjadi nikmat jika kita mengetahui tujuan diantara tujuan-tujuan Allah memberikan musibah tersebut pada kita. Diantara tujuan tersebut adalah ;

Pertama : untuk mengangkat derajad serta kedudukan hamba pada hari kiamat.  Inilah ujian yang Allah berikan kepada para nabi, shalihin dan orang-orang yang Allah cintai. Ujian ini diberikan kepada mereka untuk mengangkat derajat dan untuk mendapatkan pahala yang melimpah di akhirat. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ سَعْدٍ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَإِنْ كَانَ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاؤُهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٍ ابْتُلِيَ عَلَى قَدْرِ ذَلِكَ ، فَمَا تَبْرَحُ الْبَلايَا بِالْعَبْدِ حَتَّى تَدَعَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
Dari Sa’ad berkata : Aku katakan : “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, : “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih].

Dari hadist ini dapat diambil kesimpulan, bahwa seorang nabi, ulama’ dan juga orang-orang shalih tidak mungkin lepas dari ujian. Jika ada seorang ulama’ dan orang shalih yang tidak pernah mendapatkan ujian berupa cemoohan dari kaumnya atau tekanan dari orang-orang yang tidak senang terhadap dakwah mereka, hakekatnya mereka belum masuk golongan ulama’ yang ‘amilin fi sabilillah. Dan hendaknya ia melihat, sudah benarkah pemahan dan aqidahnya sehingga jalan yang ia tempuh landai-landai saja tanpa hambatan dan rintangan.

Dari hasit ini juga kita bisa ambil kesimpulan bahwa ujian dapat menghapuskan dosa-dosa kita hingga seorang hamba berjalan dimuka bumi bersih dari dosa.

Kedua : untuk menyaring orang-orang yang beriman dan memisahkan antara yang baik dengan yang jelek. Banyak orang yang mengaku telah beriman dan siap mengamalkan serta memperjuangkannya. Tetapi ketika datang ujian berupa benturan-benturan yang bertubi-tubi, diantara mereka ada yang gugur ditengah jalan. Ia mulai uzdur untuk ikut dalam perjungan tersebut. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ* وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. [ QS. Al Ankabut : 2-3 ].  

Pada ayat ini ada sebuah pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Bahwa tidak mungkin Allah Ta’ala membiarkan seseorang mengucapkan, kami telah beriman sedangkan ia tidak diuji. Maka orang yang telah menyatakan beriman dan mengikuti jalan para nabi serta rasul dan jalan yang lurus, pasti akan diuji sehingga terbukti pengakuannya. Dengannya pula, Allah Ta’ala mengatahui orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang yang dusta. 

Ketiga : untuk memberi hukuman kepada orang-orang yang berbuat dosa. Yang mendapatkan musibah disini bisa jadi masih termasuh dari ummat islam atau juga orang-orang musyrik dan kafir. Jika itu terjadi pada orang-orang islam, maka itu bagian dari peringatan Allah Ta’ala agar mereka kembali sadar dan bertaubat dari perbutan dosanya. Akan tetapi jika musibah itu ditujukan pada orang-orang kafir, adalah bagian dari adzab Allah pada mereka sebelum adzab yang pedih nanti diakhirat. Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً
Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [ QS. Al Isra’ : 16 ].

Makna dari ayat tersebut adalah, kami perintahkan mereka untuk taat, akan tetapi mereka malah berbuat dosa. Maka sudah sepantasnya bagi mereka mendapat hukuman. [ Tafsir ibnu katsir ].
Jika musibah yang menimpa seseorang ada yang tujuannya balasan atas perbuatan dosa dan juga ada yang untuk menaikkan derajad seseorang, maka seseorang harus jeli, dimanakah posisi dia saat mendapatkan musibah. Apakah musibah tersebut peringatan dari Allah Ta’ala, atau musibah tersebut sebagai penghapus dosanya ?. jika ia salah dalam menempatkannya, akan terjadi musibah besar pada dirinya, yaitu tambah jauhnya ia dari Allah Ta’ala.

Disaat seseorang mendapatkan musibah, banyak diantara mereka yang berburuk sangka pada Allah. Ia menggerutu dan tidak sabar serta mengatakan “ kenapa Allah memberi saya musibah ini !. Padahal saya tidak melaksanakan dosa pada Allah Ta’ala”. Dia tidak sadar bahwa musibah tersebut adalah penghapus dosa-dosanya di dunia dan menaikkan derajadnya di akhirat.

Yang lainnya ada juga kelompok yang selalu melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa pada Allah Ta’ala. Saat musibah menghampirinya, ia berbaik sangka pada pada dirinya. Ia meyakini bahwa musibah tersebut adalah sarana menaikkan derajadnya di akhirat sebagaimana musibah yang menimpa para nabi dan orang-orang shalih. Ketahuilah wahai saudaraku. Ini buah dari ketidaktahuan mereka terhadap tujuan dari musibah.
Kita harus jeli melihat diri kita. Apakah ujian yang menimpa kita sebagai peringatan atas dosa-dosa kita, atau ia sebagai sarana untuk menaikkan derajad kita dihadapan Allah Ta’ala. Jika ujian menghampiri pada saat kita melakukan dosa, ketahuilah, ia adalah peringatan dan hukuman. Tetapi jika musibah datang saat kita melakukan ketaatan dan mengamalkan islam kita, insyaAllah ia adalah sarana untuk menaikkan derajad kita, jika kita bersabar dan mengharap pahala dari-Nya.

Sebagai penutup, marilah kita renungi perkatan Ibnul Qoyyim dalam al jawabul kaafi. Beliau berkata : Disinilah permasalah yang sangat rumit dalam masalah dosa. Yaitu mereka yang tidak dapat merasakan akibat dosa pada dirinya. Dan kadang-kadang hukuman dari dosa itu diakhirkan sehingga mereka lupa. Persis sebagaimana perkataan sya’ir :

Jika tidak berdebu tembok saat dipukul
Maka tidak lagi ada debu setelah pukulan tersebut.

subhanaAllah. Berapa banyak nikmat yang hilang dari kita?. Dan berapa banyak musibah yang menimpa kita?. Tetapi sedikit yang sadar dari kita bahwa itu adalah peringatan dari Allah agar kita kembali pada-Nya. Kembali pada jalan yang lurus dan bertaubat atas dosa-dosa kita. Semoga Allah Ta’ala menfaqihkan kita pada musibah yang menimpa kita. [ Amru ].

Mengenal Musibah Terbesar


Banyak orang yang mengatakan bahwa musibah terbesar adalah musibah yang memakan banyak korban jiwa dan harta. Rusaknya berbagai fasilitas umum bseperti jalan, jembatan dan luluh lantaknya perkampungan-perkampungan yang dihuni oleh para penduduk. Bisa jadi dikarenakan gempa bumi, sunami, tanah longsor, banjir dan bencana alam lainnya. Sehingga banyak orang menyimpulkan, inilah musibah terbesar.

Akan tetapi islam memandang berbeda. Musibah terbesar yang menimpa seseorang atau bahkan negeri adalah terperosoknya seseorang atau masyarakat pada kemunkaran dan kemaksiatan. Musibah terbesar adalah saat musibah tersebut menimpa pada diinnya. Apakah itu dikarenakan fitnah syahwat yang menjadikan ia condong pada perbuatan dosa, atau terkena fitnah syubhat sehingga pikirannya kacau. Meyakini kebenaran sebagai kesesatan dan kesesatan sebagai kebenaran. Inilah arti musibah terbesar dalam kehidupan manusia.
Jika seseorang tertimpa musibah terhadap agamanya, maka ia adalah kesengsaraan dunia dan akhirat. Dari itulah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengajarkan do’a pada kita :

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا, وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا, وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا, وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah mengenai agama kami, dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai sebesar-besar keinginan kami dan tujuan akhir dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami. (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

Imam Syuraih al qodhi berkata tentang hal tersebut : Sesungguhnya jika aku ditimpa musibah maka aku ucapkan alhamdulillah empat kali; 1) Aku memuji-Nya karena musibah itu tidak lebih buruk dari yang telah terjadi, 2) aku memuji-Nya ketika Dia memberikan aku kesabaran menghadapinya, 3) aku memuji-Nya karena membuatku mampu mengucapkan kalimat istirja (innalillahi wa inna ilaihi rajiun) berharap akan pahala yang besar, dan 4) aku memuji-Nya karena Dia tidak menjadikannya sebuah musibah dalam agamaku. 

Macam-macam musibah terhadap agama kita
Setelah kita mengetahui betapa celakanya orang yang tertimpa musibah pada agamanya, maka penting bagai kita untuk mengenali apa saja musibah terhadap diin kita ini. Tujuannya agar kita dapat menjauhi musibah tersebut dan tetap istiqamah di atas kebenaran hingga akhir hayat. Diantara musibah tersebut adalah ;

Pertama : Terjerumus kedalam kesyirikan. Tidak ada dosa yang lebih besar di hadapan Allah Ta’ala setelah syirik. Dosa yang akan mengeluarkan seseorang dari keislaman dan menghapus seluruh amal serta mengekalkannya di dalam neraka. Tidak ada dosa yang lebih dimurkai Allah Ta’ala dibandingkan menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Allah subhanahu wata’ala berfirman ;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. ( QS. An Nisa:116 ).

Betapa banyak ummat hari ini terjerumus pada kesyirikan. Saaat mereka sakit bukan bersabar dan memohon kesembuhan pada Allah, akan tetapi malah pergi berobat pada para dukun. Saat musibah itu dapat mengurangi dosa dia di dunia, ternyata ia malah pergi ke dukun dan berobat dengan bantuan setan dari jin. Sehingga pahala dia menjadi sirna dan diganti dengan dosa kesyirikan.

Belum lagi jika kita menengok dunia persulapan di Indonesia, hampir acara ini menjadi acara spesial  disetiap stasiun televisi nasional. Para dukun berlomba kesaktian dan dipertontonkan di hadapan masarakat. Tak sedikit diantara mereka yang tertarik untuk menjadi dukun sebagaimana yang ia tonton. Anak-anak mereka sekolahkan untuk menjadi dukun. Padahal sihir dan perdukunan adalah perbuatan haram yang bisa merusak tauhidnya.

Kedua ; terjerumus dalam perbutan bid’ah. Bid’ah adalah dosa yang besar setelah syirik. Dan ia adalah perangkap syatan yang dibentangkan pada manusia setelah syirik. Pelaku bid’ah lebih dicintai setan dibandingkan ahli maksiat. Karena pelaku bid’ah berkeyakinan bahwa amalnya adalah kebaikan dan kecil baginya untuk taubat. Sedangkan ahli maksiat masih meyakini bahwa dosa yang ia lakukan adalah salah sehingga masih ada harapan untuk bertaubat.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mewasitkan kepada kita dengan tegas tentang masalah bid’ah ini sebagaimana sabdanya ;
إِيَّاكُمْ وَالأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
Dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidziy).

Maka wajib bagi kita untuk menjauhi bid’ah, para pelakunya dan pendungnya. Dekat dengan mereka ibarat racun yang mematikan. Sedikit saja tertelan, maka akan menyebabkan kematian hati dan jauh dari kebenaran.
Ketiga ;  Meninggalkan ibadah dan terbiasa dengan maksiat. Musibah terbesar lainnya, adalah ketika seseorang dengan mudah meninggalkan ibadah kepada Allah. Berapa banyak orang yag telah mengaku dirinya muslim, tetapi tidak mau menunaikan kewajiban shalat. Dan berapa banyak orang shalat, tetapi tidak mau menunaikannya secara berjama’ah di masjid.

Sebagian di antara kaum muslimin terjebak ke dalam pemahaman bahwa shalat berjama’ah hanyalah sebuah keutamaan saja, bukan kewajiban. Ini adalah kerancuan pemahaman. Jika memang shalat berjama’ah hanyalah sebuah keutamaan saja, maka tentunya Abdullah ibnu Ummi Maktum, seorang yang buta akan diizinkan oleh Rasulullah untuk tidak hadir di masjid. Kenyataannya, meskipun beliau buta, jalan masih banyak binatang melata, tidak ada orang yang menuntunnya ke masjid, beliau tidak mengizinkan Ibnu Ummi maktum untuk shalat seorang diri di rumahnya.

Para shahabat adalah orang-orang yang sangat memperhatikan shalat berjama’ah. Bahkan mereka senantiasa berusaha agar tidak terlambat bertakbiratul ihram bersama dengan Imam. Mereka menganggap tidak menunaikan shalat secara berjama’ah sebagai sebuah musibah besar. Hatim al-Asham mengatakan, “Musibah agama itu lebih besar daripada musibah dunia. Ketika anak putriku meninggal lebih dari sepuluh ribu orang bertakziah, tetapi kenapa ketika akau tertinggal dari shalat berjama’ah tidak ada seorang pun yang bertakziah?”

Meninggalkan ibadah karena sesuatu dunia yang mubah adalah suatu musibah besar dan kecelakaan besar. Tetapi masih ada kecelakaan dan musibah yang lebih besar lagi. Yaitu orang meninggalkan kewajiban syari’at hanya karena mengejar kemaksiatan. Seseorang meninggalkan shalat karena asyik dengan perjudiannya. Tidak berpuasa, karena asyik dengan minuman kerasnya. Tidak berjama’ah karena sibuk berpacaran. Enggan mendatangi pengajian karena berat meninggalkan sinetron, dan seterusnya.

Ke empat : Tidak bersabar atas musibah dunia yang menimpanya. Berbicara tentang sabar, kadang-kadang orang mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya. Ini adalah ungkapan orang yang sudah tidak mampu lagi bersabar. Allah mengajarkan kesabaran dan tidak pernah memberikan batas. Artinya, bersabar itu harus dilakukan terus hingga Allah mengganti musibah dengan kenikmatan.

Orang yang mengatakan sabar ada batasnya, sesungguhnya ia tidak faham makna sabar. Sabar adalah pengakuan seorang hamba, bahwa segala musibah itu adalah dari Allah. Karena itulah ia tanggung segala cobaan ini dengan mengharap pahala dari Allah.

Dengan penjelasan makna sabar seperti ini, orang yang tidak mau bersabar terhadap cobaan dunia yang menimpanya, maka musibah itu bisa berpindah kepada agamanya. Sebab di dalam ketidak sabaran terhadap musibah itu terkandung sikap berpaling dan ingkar tehadap taqdir yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Apalagi jika ia tertimpa musibah lalu mengadu ke dukun, ini adalah kebodohan dan musibah yang amat besar. Seorang ulama’ mengatakan, ”Orang yang bodoh adalah mengadukan Allah kepada makhluk. Ini adalah kebodohan yang luar bisa terhadap siapa yang diadukan dan yang dijadikan tempat mengadu. Yang diadukan adalah Dzat yang Maha sempurna, tempat mengadunya kepada makhluk yang lemah dan penuh kekurangan. Akankah kita mengadukan dzat yang Maha penyayang kepada orang yang tak bisa memberikan kasih sayang ?. Akankah kita mengadukan Dzat yang sempurna kepada makhluk yang terbatas ?. Akankah kita mengadukan Dzat yang Maha Perkasa kepada makhluk yang lemah ?. 

Marilah kita telaah kembali diri kita masing-masing. Marilah kita cermati hati kita masing-masing. Jika masih ada potensi-potensi munculnya musibah keagamaan di dalam diri kita, harus segera kita bersihkan. Kita cuci hati dan jiwa kita, semoga Allah memberikan hidayah, Allah menuntun kita di jalan-Nya yang lurus. Agar kita senantiasa meniti jalan lurus itu hingga akhir hayat kita. [ Amru ].

Memahami arti sebuah ujian


Hidup di dunia adalah ujian. Dalam keadaan miskin, kaya, menderita, bahagia, semuanya adalah ujian. Jika ia diuji dengan kesenangan, ia harus bisa bersyukur dan menggunakannya dalam kebaikan. Dan jika diuji dengan kekurangan dan kesempitan dia harus sabar dan memohon pahala dari Allah Ta’ala.

Banyak orang yang tidak sadar akan sebuah ujian. Tidak tahu akan jenisnya ujian, tujuan dari ujian, serta hikmah dari berbagai ujian tersebut. Yang akhirnya, dia salah dalam mensikapi berbagai ujian tersebut sesuai dengan yang diharapkan islam. 

Saat ia diberi kenikmatan seakan-akan ia adalah limpakan karunia dari Allah Ta’ala. Ia gunakan kenikmatan tersebut untuk berfoya-foya dan kemaksiatan. Kesehatannya tidak digunakannya untuk ketaatan dan beribadah pada penciptanya. Sedangkan harta yang ia miliki dibelanjakan untuk kemaksiatan dan hal-hal yang kurang begitu berguna. 

Dan saat ia tertimpa musibah pada dirinya dan disempitkan hartanya, seakan-akan Allah Ta’ala sedang menghinakannya. Allah Ta’ala sedang marah terhadapnya. Dan Allah Ta’ala sedang mengadzabnya dalam kehidupan dunia. Ia merasa dunia terlalu sempit. Hal ini persis yang disampaikan Allah Ta’ala dama al qur’an ;
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka dia akan berkata: "Tuhanku Telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". [ QS. Al Fajr : 15-16 ].

Imam Ibnu Katsir berkata : Allah Ta’ala berkata mengingkari manusia yang berkeyakinan, jika Allah meluaskan baginya rizki untuk mengujinya, ia mengira bahwa Allah memuliakannya. Padahal tidak demikian. Akan tetapi ia adalah ujian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :  Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tidak, Sebenarnya mereka tidak sadar. [ Al Mukminun 55-56 ].

Disisi yang lain, jika Allah Ta’ala mengujinya dengan kesempitan rizki, ia meyakininya bahwa Allah sedang menghinakannya. Padahal tidak demikian. Allah memberikan harta pada orang yang dicintai dan yang tidak dicintai. Dan menyempitkan harta bagi orang yang dicintai dan yang tidak dicintai. Akan tetapi yang menjadi setandart adalah ketaatan ia dalam dua kondisi tersebut. Jika ia dalam kondisi kaya, hendaklah bersyukur. Dan jika ia dalam kondisi fakir hendaklah ia bersabar. [ Tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut ].

Jenis ujian
Semuanya yang ada di dunia adalah ujian. Sedangkan ujian ada dua macam. Ujian berupa kesenangan dan ujian berupa ketidak senangan dan kesempitan.

Pertama : Ujian kesempitan dan ketidak senangan. Jenis inipun juga terbagi menjadi dua macam. Yaitu taqdir Allah yang menjadikan ia miskin, lapar, tertimpa musibah atau hilangnya orang-orang dekat kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. [ Al Baqarah : 155 ].
Sedangkan jenis kedua adalah ujian ketidak senangan dikarenakan usaha dia dalam melaksanakan syari’at Allah Ta’ala. Seperti seorang muslim yang berusaha memelihara jenggotnya, menjauhi isbal, menjauhi rokok dan perbuatan dosa lainnya. Atau seorang wanita muslimah yang istiqamah dalam berpakaian sesuai tuntunan islam. Jika berbagai ketaatan tersebut mendatangkan cibiran orang, makian dan umpatan dan bahkan kesempitan rizkinya, maka ketahuilah ia adalah ujian dari Allah. Derajadnya lebih tinggi dibandingkan ujian kesempitan karena taqdir Allah. Maka tidak heran jika Allah menyiapkan jannah bagi orang-orang yang lulus dalam ujian ini. Allah Ta’ala berfirman :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). [ An Nazi’at : 40 – 41 ].
Maksudnya adalah, takut akan kedudukan Allah Ta’ala dan hukum-hukumnya. Kemudian ia tahan nafsunya dari hal yang tidak benar, dan ia arahkan pada ketaatan, maka tempat kembalinya adalah jannah. [ Tafsir Ibnu katsir ].

Kedua : ujian kesenangan dan kelapangan. Jenis inipun juga ada dua bagian. Pertama Allah mentaqdirkannya sehat, diberi kekayaan melimpah, anak-anak yang banyak dan membanggakan, memiliki kedudukan tinggi dimasyarakat dan yang lainnya. Semuanya ini, kadang menjadi kebanggan bagi orang-orang yang memilikinya. Allah Ta’ala berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan. [ Al Anbiya’ : 35 ].

Pada ayat tersebut Allah Ta’ala menyebutkan ujian kesusahan dan kesenangan secara bersama-sama. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga bersabda dalam hadistnya :
إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ مَحْزَنَةٌ
Sesungguhnya anak itu bisa menjadikan bahil, pengecut, bersedih. [ Shahih jami’us shaghir : 1990 ].
Hadist ini juga mengingatkan pada kita agar tidak bahil saat islam memerintahkan kita untuk berinfaq. Atau pengecut saat islam memerintahkan kita untuk berjihad dan membela agama kita. Dan bersedih yang mendalam saat anak kita meninggal dunia. 

Sedangkan jenis kedua adalah; ujian berupa kenikmatan tetapi dengan melanggar aturan Islam. Seperti seseorang yang menahan dirinya dari jalan-jalan yang diharamkan saat mencari rizki. Bisa saja dia masuk menjadi pegawai bank-bank ribawi atau mungkin mendapatkan hutangan yang lunak dari bank tersebut. Atau dengan menipu saat melakukan transaksi jual beli. Akan tetapi ia tinggalkan semuanya karena takut akan ancaman Allah Ta’ala.

Ujian yang seperti ini terkadang menjadi ujian yang lebih berat dibandingkan ujian kesusahan dan kesempitan hidup. Orang yang sempit dan tersiksa kebanyakan akan meminta dan memohon pada Allah dengan kesabaran dan keistiqamahan agar dihilangkan kesempitannya. Tetapi sedikit dari manusia yang mendekat dan memohon pada Allah agar meluluskan ujian berupa kesenangan di dunia ini dan tidak terjerembab pada hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala. Karena mereka menganggap bahwa ia telah diberi kemuliaan Allah Ta’ala berupa kenikmatan, padahal mereka terus dalam kaedaan maksiat dan melanggar aturan-aturan islam.
Dari itulah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam lebih banyak mengingatkan para sahatbatnya tentang bahayanya ujian kenikmatan dibandingkan ujian kesempitan. Beliau bersabda dalam hadistnya ;

مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
Tidaklah kefakiran aku takutkan atas kalian. Akan tetapi yang aku takutkan jika dibukakan atas kalian dunia sebagaimana telah dibukakan terhadap orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian berlomba-lomba terhadapnya sebagaimana mereka berlomba-lomba terhadapnya, dan kalian celaka sebagaimana mereka telah celaka. [ HR. Bukhori Muslim ].

Betapa banyak orang yang bersabar saat diuji dengan kefakiran dan kemiskinan. Ia senantiasa berdo’a pada Allah untuk diberikan kesabaran dalam menanggung kemiskinannya. Tetapi sedikit diantara manusia yang diuji dengan kenikmatan hidup. Bakhil terhadap hartanya, sombong dengan anak-anaknya yang telah sukses dunianya, serta berbangga-bangga dengan pekerjaan dan kedudukan mereka dimasyarakat. Mereka merasa bahwa itu semua adalah tanda kecintaan Allah kepada mereka. Sehingga ada yang berujar bahwa saking cintanya Allah kepadaku Ia memberikan seluruh kenikkmatan dunia padaku. Sungguh ini adalah bukti ketidak pahaman ia tentang hakekat sebuah ujian.

Sebagai penutup kami pesankan, jika anda ditaqdirkan menjadi orang diberi kelapangan, sadarlah bahwa ia adalah ujian. Jangan anda hamburkan harta anda untuk bermewah-mewah dan berbangga-bangga. Jadilah sebagaimana Abdurrahman bin ‘Auf. Yang takut jika kenikmatan dunia itu akan mengurangi kenikmatan ia di akhirat. Dan jika anda ditaqdirkan menjadi orang yang fakir atau kekurangan, maka bersabarlah dengan keadaan anda. Jangan sampai kemiskinan menjerumuskan anda pada perbuatan dosa.  Kuncinya adalah sabar dan syukur. Jika kita bisa bersabar atau bersyukur, maka jannah menanti kita. [ Amru ].